"Saya tidak membaca buku, saya mengobrol dengan si pengarangnya." - Elbert Hubbard

Berakhir sudah | Part 2

    



Sudah dua minggu sejak kami memulai Ujian akhir di Rumah, berarti sudah dua minggu pula kami tidak bertemu. Aku dipilih untuk menjadi panitia pelantikan OSIS yang baru. Tentu saja ini bukan yang Aku inginkan, Aku hanya ingin bersantai di rumah menikmati hari dengan kegiatan seminimal mungkin. Tapi tunggu, sepertinya aku melihat seseorang yang aku kenal di tempat rapat panitia. Ya itu benar, Clarissa. Aku menjadi bersemangat sekarang. 
   
 Aku memasuki ruangan melangkahkan kaki menuju Clarissa. 

"Hai clar, aku tidak menyangka kau ikut menjadi panitia juga" sapaku padanya. 

"Apa kau tidak tahu kalau aku salah satu anggota OSIS lama?" Jawabnya dengan sedikit tertawa kecil. 

"Tentu saja tidak, para guru bahkan tidak memberitahu kalau akan ada pemilihan ketua OSIS setahun yang lalu" 

"kau benar juga, lalu bagaimana dengan ujian kemarin, Apa kau bisa mengerjakanya?" Clarissa mulai mengganti topik tentang ujian kemarin 

"Oh ayolah Clar, masih banyak topik yang bisa kita bicarakan selain itu" 

"Aku kerjasama dengan teman-teman yang lain, jadi tentu saja bisa" lanjutku. 

"Apa? Bagaimana caranya?" Clarissa bingung dengan jawabanku. 

"Memangnya kau tidak seperti itu juga? Padahal teman-teman yang lain saling berkoordinasi satu sama lain saat Banyak jalan menuju Roma Clar" Aku menjelaskan padanya dengan sedikit mengutip perkataan guru matematika kami saat memberitahu kalau banyak cara yang bisa digunakan untuk memecahkan soal matematika. 

"Tetapi tetap saja itu cara yang salah Arfan"

 "Aku setuju denganmu, walaupun...." entahlah aku tidak bisa melanjutkan perkataan ku
 
   Hasil rapat telah keluar, tugasku tidak terlalu penting dan memang itu yang Aku inginkan. Saat Aku ingin keluar ruangan segera pulang, tiba-tiba Clarissa mendatangiku. 

"Kau sudah mau pulang?"

 "Ya, aku harus segera pulang" 

"Tidak mau bersama denganku?" 

"Tidak usah, aku sedang ingin sendiri" kau tahu kenapa aku menolak tawarannya? Saat rapat berlangsung Adikku mengirim pesan kalau Ibuku sedang dibawa ke rumah sakit, ia terjatuh saat sedang berjalan dari pasar dan tidak sadarkan diri. Moodku seketika hancur, hanya rasa cemas yang ada diriku sehingga aku ingin cepat-cepat ke rumah untuk melihat keadaannya. 

    "Bagaimana?" Tanyaku dengan sedikit panik. 

"Untungnya bukan hal yang serius, ibu hanya terlalu kecapekan kata dokter jadi bisa langsung pulang" jawab adikku dengan tenang. 

"Syukurlah" Aku sangat senang mendengarnya, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
.
.
.
.
    Setelah berbagai usaha, akhirnya persiapan untuk pelantikan OSIS sudah selesai. "Sangat melelahkan ya Fan" Fadli berbicara dengan sedikit tersengal nafasnya. 

"Ya kau benar, memang sudah nasib kita menjadi babu untuk acara ini" jawabku. 
 
   "Oke semua, terimakasih atas kerja 

kerasnya, akhirnya persiapan untuk acara besok telah selesai. Untuk besok jangan lupa untuk datang lebih pagi" Seru ketua panitia kepada kami, aku hanya diam mendengar itu. Aku sedang duduk dan fokus memerhatikan dari kejauhan seseorang yang pastinya sudah bisa kalian tebak siapa itu. 
.
.
.
    Langit mendung dipagi hari seperti sedih karena sesuatu yang akan terjadi. Tapi, tidak seorangpun peduli tentang itu. Mereka beraktifitas seperti biasa. Akupun sama, tidak peduli tentang itu. Dipikiranku hanya ada clar, clar dan clar, entah kenapa aku menjadi seperti ini. 
  
  Sekolah sudah ramai saat aku datang, sepertinya aku sedikit terlambat. 

"Hei Arfan, kenapa kau berdiam disitu, Segera bantu kami disini!" Teriak salah satu anggota panitia. 

"Ya, Aku segera datang" balasku sambil 
berlari kecil kearahnya.
 
   Kegiatan hari ini berjalan seperti yang direncanakan. Walau ada beberapa masalah kecil tapi kami bisa mengatasinya. Aku sedang duduk di salah satu bangku di belakang sekolah, Clarissa menghampiri ku sembari menjulurkan tangan memberi sebotol minuman 

"Ternyata kau ada disini, aku sudah mencarimu ke seluruh bagian sekolah. Teman-teman yang lain ingin makan-makan, apa kau tidak mau ikutan?" 

"Tidak terimakasih"

"Kalau begitu mau pulang bersama? Aku tidak menerima penolakan. Kemarin kau sudah menolaknya"

"Hmm" 

"Baiklah kalau begitu aku akan menunggumu di depan pintu sekolah setelah semua selesai"

"Aku bahkan belum memberikan jawaban" Aku berteriak ke arahnya.
Clarissa berjalan menjauhiku sambil tertawa.
.
.
.
"Kemana saja kau? Aku sudah menunggumu sejak 10 menit yang lalu" ujar Clarissa dengan sedikit nada kesal.

"Ah, ternyata kau masih disini. Sengaja aku datang agak terlambat membiarkanmu agar pulang sendiri"

"Jahat"

"Haha, sejak kapan aku bilang kalau aku orang baik?" Ucapku sambil berjalan keluar pagar.

"Hei tunggu! Mau kemana kau?"

"Tentu saja pulang, kau tidak mau ikut?"

"Awas kau nanti!" Ancamnya.
    
Ternyata ancaman itu bukan hanya keluar dari mulut, seketika ia berlari dan memukul dengan sangat keras ke punggung ku. 

"Aw, itu sakit"

"Hahaha, rasakan" 
 
   Puas ia tertawa. Kini gantian aku mengejar dan mencoba menangkapnya, tak mau kalah ia juga berlari dan berusaha menghindar dari tanganku. Ini sangat seru, kami tak bisa berhenti tertawa saat itu.

"Sudah..sudah Fan, aku capek"

"Haah.. iya, kita berhenti saja dulu disana untuk membeli minum"

"Kamu mau minum apa? Biar aku yang bayar" tawarku.

"Tidak usah, Aku bawa uang kok"

"Hm, baiklah kalau begitu"   
 
   Saat sedang minum bersama, di depan kami ada seorang anak kecil yang ingin menyeberang, ia mulai melangkah tanpa memperhatikan sekitarnya. 
   
 Sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi dari arah kanan anak itu, Aku yang melihat nya seketika berlari kencang dan mendorongnya ke arah depan. Namun sayang, sebelum Aku sempat mengelak truk itu sudah terlebih dahulu menyambar tubuhku. 

    Seluruh tubuhku seperti remuk di hantam oleh truk. Darahku mendidih karena mengalir di aspal yang panas. Kepalaku pusing, teriakan orang-orang dan Clarissa menggema di telinga ku. Pandangan ku mulai gelap. Mata ku tertutup walau aku ingin sekali membukanya dan mengatakan kalau aku baik-baik saja. Bayangan kedua orangtuaku seketika muncul ditengah kegelapan itu. 
  
  "Berakhir sudah hidupku sebelum aku bisa membahagiakan kalian" Kataku dalam hati.

"Berakhir.......? Ini baru permulaan..."
-END-









Cerita Populer Minggu Ini