"Saya tidak membaca buku, saya mengobrol dengan si pengarangnya." - Elbert Hubbard

Misteri Si Pendengkur di kamar sebelah


Malam hari itu adalah waktu tidur bagi semua orang. Ya, harusnya demikian, tapi tidak bagi mahasiswi semester awal sepertiku. Tumpukan tugas kuliah saja sudah membuatku lelah, belum lagi materi-materi yang perlu kupelajari untuk kuis dan ujian. Kali ini pun sama seperti malam-malam biasanya. Aku duduk berkutat dengan isi makalahku. Jari-jariku berdansa di atas papan ketik, menekan tombol huruf demi huruf. Selagi aku memusatkan perhatian pada layar laptop, terdengarlah bunyi dengkuran yang amat keras. Aku menghela napas panjang begitu suara dengkuran itu kembali menembus telingaku.


 “Aduh, benar-benar deh,” gumamku sambil membuka laci meja belajar, merogoh earphoneku, “tetangga sebelah memang menyebalkan!”

Bukan kali ini saja tetangga sebelahku mendengkur sebegitu keras. Sejak kepindahanku ke daerah ini, aku selalu mendengar suara dengkuran dari rumah sebelah. Akan tetapi, aku berusaha menahan diri untuk tidak menegurnya. Lebih baik aku menutup telinga ketimbang melampiaskan amarah. Sudah cukup dengan masalah kuliah. Aku tidak ingin menambah masalah baru.


Kantung mataku tampak semakin gelap saat langit mulai cerah. Aku membalikkan tubuhku menghadap dinding kamar. Aku tidak bisa tidur semalaman karena dengkurannya jauh lebih kencang dari biasanya. Dan menyebalkannya dengkurannya baru berhenti menjelang subuh, di saat aku harus bersiap-siap membersihkan diri dan mengisi tenagaku sebelum berangkat ke kampus.

Aku beranjak dari tempat tidurku dan bergegas melakukan rutinitasku. Saat jarum jam menunjukkan angka enam, aku segera keluar menunggu ojek online pesananku. Aku berdiri di halaman rumah, sibuk memandang ponsel ketika seorang wanita berkerudung putih menyapaku.


 “Non, kamu orang baru di sini?” tanya wanita itu.

 “Iya, Bu. Saya Rika, Erika Ananda. Baru pindah seminggu lalu.”

 “Oh, salam kenal. Panggil saja Bu’de Ayu. Rumah ibu tepat di sebelah,” balasnya sambil tersenyum.

 Baru kali ini aku bertatap muka dengannya. Jadi ini tetangga yang gemar mendengkur itu.

 “Eh, tapi kamu sendirian saja, Non?” tanyanya.

 “Benar, Bu.”

 “Aduh, hati-hati, Non. Kalau tinggal sendirian harus bisa jaga diri. Jangan pulang terlalu malam kalau kamu tidak mau didatangi Si Pendengkur.”

 “Si Pendengkur?”

 “Iya, dia itu suka sekali men–“

 “Maaf, Bu’de, sepertinya ojek saya sudah datang,” ujarku begitu melihat pengendara motor berpakaian serba hijau mendekati kontrakan, “saya pamit, ya, Bu’de.”

Sepanjang perjalanan menuju kampus, pikiranku terpaku pada Si Pendengkur. Siapakah dia? Apakah dia semacam preman? Aku membayangkan seperti apa rupanya. Andai saja aku bisa bertanya lebih banyak pada Bu’de Ayu.

Kuliah selesai lebih lama dari dugaanku. Dosenku memberikan tugas presentasi kelompok yang harus dikumpulkan besok. Tenaga berkuras banyak setelah mengikuti kerja kelompok. Aku ingin cepat-cepat pulang dan melemparkan diriku ke tempat tidur.

Langit sudah menghitam saat aku tiba di halaman kontrakanku. Begitu aku membuka pintu kontrakan, telingaku menangkap suara dengkuran lembut dari kamar tidurku. Seketika rasa lelahku lenyap. Seluruh indraku bersiaga. Tidak mungkin ada orang yang bisa masuk begitu saja ke sini. Aku tidak pernah membuat kunci cadangan dan memberikannya kepada orang lain.

 “Siapa itu?” sahutku sambil melepas sepatu.

 Suara dengkuran itu malah semakin lantang.

 “Siapa kau?!” suaraku bergetar parah.

Aku melangkah perlahan-lahan menuju kamar tidurku. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku saat aku tiba di depan pintu. Aku menelan ludah, tidak yakin untuk memasuki kamar. Entah mengapa, aku kembali teringat pada cerita Bu’de Ayu. Jangan-jangan, Si Pendengkur yang dimaksud Bu’de Ayu jauh berbeda dari bayanganku.

 “Tenanglah, Erika, tenanglah,” batinku sambil mengelus dada.

Perlahan-lahan aku mendorong pintu, berusaha agar tidak menimbulkan suara. Ada seseorang yang berbaring di atas tempat tidurku. Samar-samar hawa dingin membelai sekujur tubuhku. Aku menelan ludah, tidak sanggup menahan dinginnya udara. Tanganku meraba-raba saklar lampu saat sosok itu membalikkan tubuhnya dan menyapa namaku.

 “Halo, Erika…. Ikut denganku, yuk.”

Aku terpaku pada wajahnya yang benar-benar hancur karena luka bakar. Tiba-tiba ia menyeringai lebar dan berusaha mendekatiku.

Jeritanku langsung membahana di seluruh kontrakan.

Tanpa berpikir panjang lagi, kulangkahkan kaki secepatnya menuju rumah Bu’de Ayu. Kuketuk pintu rumahnya sekuat tenaga. Keringat dingin mulai bercucuran di wajahku, berharap agar Si Pendengkur tidak mengikutiku. Untung saja Bu’de Ayu langsung membuka pintu, kalau tidak aku bisa pingsan di halaman rumahnya.

 “Ada apa, Non? Kenapa kamu teriak-teriak tadi?”

 “Bu’de Ayu, to–tolong aku,” kataku terengah-engah, “ada, ada Si Pendengkur di kamarku.”

Entah mengapa tubuhku menjadi amat lemas. Napasku terasa amat sesak. Perlahan-lahan pandanganku mengabur hingga menghitam seluruhnya.

Namun, samar-samar mataku menangkap seulas senyuman di wajah Bu’de Ayu sebelum muncul bekas-bekas luka bakar pada wajahnya….


©JenniferLizardi

Cerita Populer Minggu Ini