"Saya tidak membaca buku, saya mengobrol dengan si pengarangnya." - Elbert Hubbard

For you

 

 

 Langit sudah berwarna oranye, menandakan akhir dari kecerahan Sang Mentari. Ini adalah hari terakhir dari libur panjang ku, dan besok aku akan resmi naik ke kelas 12. Aku tidak begitu aktif di sekolah, sehingga aku sering mengisi waktu dengan membaca novel. Aku punya seorang adik yang sangat terobsesi untuk menjadi Populer yang membuatnya melakukan apapun agar ia menjadi Populer dikalangan teman temannya. Kadang, aku berpikir mengapa seseorang rela untuk melakukan apapun agar dirinya bisa dikenal oleh banyak orang. Saat ini aku belum menemukan alasan mengapa seseorang bisa rela melakukan apa saja agar dirinya bisa dikenal oleh banyak orang, tapi mungkin aku akan segera menemukannya.

"Kak, segera hentikan lamunan mu yang tidak berguna itu" terdengar suara Haruka memanggil ku dari luar kamarku. Dia adalah Adikku.
"Kenapa?" Tanyaku padanya sambil berjalan untuk membuka pintu.
"Cepat turun, makan malam sudah siap" jawabnya singkat dan langsung pergi menuju tangga.

   
   Adikku memang sangat terobsesi untuk menjadi Populer di sekolah sehingga saat di sekolah atau di luar rumah dia menjadi sangat ceria dan ramah. Tetapi saat berbicara denganku, kepribadiannya bisa berubah 180 derajat menjadi dingin dan jutek. Aku tidak tahu kenapa bisa seperti itu, tetapi aku tidak ingin mengambil pusing hal tersebut karena tidak penting. Setelah itu aku segera turun ke lantai bawah
untuk makan malam dengan keluarga ku. Tidak banyak yang kami bicarakan di meja makan, hanya tentang aku yang akan naik ke kelas 12 besok dan adikku yang akan masuk ke sma, dan sialnya aku akan satu sekolah dengannya.

                                ***

     Hari-hari libur ku akhirnya selesai, dan di pagi yang cerah ini adalah semester pertama dari perjalanan ku di kelas 12, huuh.... Aku sangat gugup karena jarang sekali bertemu apalagi berinteraksi dengan orang. Seperti yang kalian tahu, pekerjaan ku hanya membaca seharian:^). Setelah selesai sarapan, aku langsung pergi dengan berjalan kaki karena jarak sekolah dengan rumahku sekitar 10 menit. Sesampainya di gerbang sekolah, ternyata di sana sudah banyak murid yang datang bersama temannya. Mungkin hanya aku yang sendiri, sungguh sedih jika dipikirkan haha... Tiba-tiba, ada seorang murid perempuan yang tidak sengaja menabrak ku dari belakang dan langsung meminta maaf padaku, "apa yang membuatnya begitu terburu-buru?" Gumam ku dalam hati. Tapi kalau dilihat kembali gadis itu sangat manis.(>y<)

     Sehabis kejadian tadi, aku langsung bergegas menuju papan pengumuman untuk melihat di kelas mana aku akan menghabiskan waktuku dengan membaca buku. Setelah puas melihat, aku segera menuju kelas ku yang berada di lantai 3. Aku berjalan seperti biasa ke kelas ku sambil mendengar orang-orang berbincang tentang liburan mereka, aku sungguh iri. Tetapi tidak ada yang bisa menggantikan saat dimana kau membaca buku di kamar mu dan ditemani makanan dan minuman favorit. Membayangkannya saja sudah membuat ku ingin segera pulang.

     Akhirnya aku sampai di depan pintu kelas. Jujur saja aku sangat gugup. Aku terdiam sekitar 1 menit di depan pintu kelas itu. Aku mengambil nafas dan membuka perlahan pintu kelas, yang membuat murid-murid lain yang sudah ada di kelas itu secara serentak mulai menatap ku. Ditengah tatapan itu ada seorang murid perempuan yang melambaikan tangannya padaku menandakan agar aku datang padanya. Aku menyadarinya, ternyata ia adalah gadis yang tidak sengaja menabrakku tadi di gerbang sekolah. Aku pun langsung mendatangi nya.

     "tidak kusangka, ternyata kita sekelas ya hahaha..." Ucapnya memulai percakapan.
"Ah... Iya" jawabku dengan nada gugup karena jarang sekali aku berbicara bersama perempuan selain keluarga.
"Oh iya, siapa namamu? Sepertinya baru pertama kali aku melihat mu" tanya dirinya penasaran.
Ini adalah reaksi wajar ketika kau baru bertemu denganku, karena di sekolah aku jarang sekali pergi untuk berinteraksi dengan orang lain, dan saat istirahat pun aku hanya di kelas tidak pergi kemanapun dan saat waktunya pulang juga aku segera bergegas menuju rumah, tidak mampir kemanapun. Mungkin itu adalah kehidupan yang membosankan bagi banyak orang. Tetapi, aku sangat menikmati hidup di duniaku yang kecil ini.

"Eemm.... Halo? Kau masih disitu kan?"
"Eh, ah.. iya, maaf tadi aku terlarut dalam pemikiran ku haha" jawabku.
"Namaku Hiro, salam kenal" kataku memperkenalkan diri
"Salam kenal juga, namaku Sumiya" balasnya sambil tersenyum. Sangat manis.
"Kau mau duduk dimana? Kalau kau mau, ambil saja tempat di belakang ku, belum ada yang menempati nya"
"Hmm, baiklah aku akan duduk di sana"
Setelah itu aku kembali berbincang kembali dengan Sumiya, agak lama sampai Jam pelajaran di mulai dan Wali Kelas kami masuk ke kelas.
"Selamat pagi semua, saya yang akan menjadi wali kelas kalian selama 1 tahun kedepan. Jadi, mohon kerja samanya. Karena kalian sudah saling mengenal, sepertinya tidak perlu lagi melakukan perkenalan. Kalau begitu, langsung saja kita mulai pelajaran nya".

                               ***

     Satu kata untuk menggambarkan kehidupan sekolah ku. Membosankan. Ya, walaupun aku dan Sumiya sudah saling kenal, tapi sejak saat kami tidak pernah mengobrol lagi. Dia sudah disibukkan oleh dunia nya sendiri yang mungkin tidak akan pernah kugapai. Dunia yang penuh dengan canda tawa dengan teman. Ah sudahlah, saat ini yang kupikirkan hanya ketika aku sedang berbincang dengannya. saat itu, ada sebuah perasaan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Rasa yang membuat ku merasa nyaman, sehingga aku ingin mengobrol dengan waktu yang lama bersamanya. Setidaknya sampai aku tahu kalau dia sudah tidak ada di dunia ini lagi.

15 Juli 2020, saat aku mendengar kabar itu, entah kenapa rasanya sudah tidak ada lagi gunanya aku untuk hidup. Semua terasa hampa dan tidak berarti, yang aku lakukan hanya menutup diri di kamar karena kesedihan yang mendalam. Hubunganku dengannya hanya sebatas teman yang tidak terlalu dekat. Tapi kenapa aku merasa sesedih ini? Apa yang membuat ku bisa menjadi seperti ini? Sebenarnya beberapa Minggu lalu Sumiya mengajakku untuk pergi keluar bersamanya, mungkin ini bisa dibilang sebuah kencan. Kami memutuskan untuk pergi ke taman bermain. Awalnya, semua masih sama seperti biasa hingga sore hari saat ia mengajakku untuk menaiki sebuah bianglala. Ia membuka percakapan diantara kami dengan kalimat.
"Lihat itu, pemandangan yang sangat indah. Andai saja aku bisa melihat ini lebih lama lagi" ucap sumiya dengan nada dan wajah yang melambangkan kesedihan yang amat mendalam.
"Apa maksudmu?" Jawabku sambil memperhatikan wajahnya.
"Sebenarnya, aku mempunyai penyakit yang membuatku tidak bisa hidup lebih lama lagi"
"Dokter bilang, setidaknya hidupku paling lama hanya 2 bulan"
Seketika semua hening, aku tidak tahu ingin menjawab apa. Aku sangat bingung. Setelah itu tidak ada percakapan panjang di antara kami. Hingga kami pun berpisah. Aku tidak menyangka, kenapa perpisahan ini bisa begitu cepat. Bahkan aku belum mengungkapkan perasaanku pada. Namun, takdir berkata lain.



Cerita Populer Minggu Ini