Langit sudah berwarna oranye, menandakan akhir dari kecerahan Sang Mentari. Ini adalah hari terakhir dari libur panjang ku, dan besok aku akan resmi naik ke kelas 12. Aku tidak begitu aktif di sekolah, sehingga aku sering mengisi waktu dengan membaca novel. Aku punya seorang adik yang sangat terobsesi untuk menjadi Populer yang membuatnya melakukan apapun agar ia menjadi Populer dikalangan teman temannya. Kadang, aku berpikir mengapa seseorang rela untuk melakukan apapun agar dirinya bisa dikenal oleh banyak orang. Saat ini aku belum menemukan alasan mengapa seseorang bisa rela melakukan apa saja agar dirinya bisa dikenal oleh banyak orang, tapi mungkin aku akan segera menemukannya.
"Kak, segera hentikan lamunan mu yang tidak berguna itu" terdengar suara Haruka memanggil ku dari luar kamarku. Dia adalah Adikku.
"Kenapa?" Tanyaku padanya sambil berjalan untuk membuka pintu.
"Cepat turun, makan malam sudah siap" jawabnya singkat dan langsung pergi menuju tangga.
Adikku memang
sangat terobsesi untuk menjadi Populer di sekolah sehingga saat di
sekolah atau di luar rumah dia menjadi sangat ceria dan ramah. Tetapi
saat berbicara denganku, kepribadiannya bisa berubah 180 derajat menjadi
dingin dan jutek. Aku tidak tahu kenapa bisa seperti itu, tetapi aku
tidak ingin mengambil pusing hal tersebut karena tidak penting. Setelah
itu aku segera turun ke lantai bawah
untuk makan malam dengan
keluarga ku. Tidak banyak yang kami bicarakan di meja makan, hanya
tentang aku yang akan naik ke kelas 12 besok dan adikku yang akan masuk
ke sma, dan sialnya aku akan satu sekolah dengannya.
***
Hari-hari libur ku
akhirnya selesai, dan di pagi yang cerah ini adalah semester pertama
dari perjalanan ku di kelas 12, huuh.... Aku sangat gugup karena jarang
sekali bertemu apalagi berinteraksi dengan orang. Seperti yang kalian
tahu, pekerjaan ku hanya membaca seharian:^). Setelah selesai sarapan,
aku langsung pergi dengan berjalan kaki karena jarak sekolah dengan
rumahku sekitar 10 menit. Sesampainya di gerbang sekolah, ternyata di
sana sudah banyak murid yang datang bersama temannya. Mungkin hanya aku
yang sendiri, sungguh sedih jika dipikirkan haha... Tiba-tiba, ada
seorang murid perempuan yang tidak sengaja menabrak ku dari belakang dan
langsung meminta maaf padaku, "apa yang membuatnya begitu
terburu-buru?" Gumam ku dalam hati. Tapi kalau dilihat kembali gadis itu sangat manis.(>y<)
Sehabis kejadian
tadi, aku langsung bergegas menuju papan pengumuman untuk melihat di
kelas mana aku akan menghabiskan waktuku dengan membaca buku. Setelah
puas melihat, aku segera menuju kelas ku yang berada di lantai 3. Aku
berjalan seperti biasa ke kelas ku sambil mendengar orang-orang
berbincang tentang liburan mereka, aku sungguh iri. Tetapi tidak ada
yang bisa menggantikan saat dimana kau membaca buku di kamar mu dan
ditemani makanan dan minuman favorit. Membayangkannya saja sudah membuat
ku ingin segera pulang.
Akhirnya aku sampai
di depan pintu kelas. Jujur saja aku sangat gugup. Aku terdiam sekitar 1
menit di depan pintu kelas itu. Aku mengambil nafas dan membuka
perlahan pintu kelas, yang membuat murid-murid lain yang sudah ada di
kelas itu secara serentak mulai menatap ku. Ditengah tatapan itu ada
seorang murid perempuan yang melambaikan tangannya padaku menandakan
agar aku datang padanya. Aku menyadarinya, ternyata ia adalah gadis yang
tidak sengaja menabrakku tadi di gerbang sekolah. Aku pun langsung
mendatangi nya.
"tidak kusangka, ternyata kita sekelas ya hahaha..." Ucapnya memulai percakapan.
"Ah... Iya" jawabku dengan nada gugup karena jarang sekali aku berbicara bersama perempuan selain keluarga.
"Oh iya, siapa namamu? Sepertinya baru pertama kali aku melihat mu" tanya dirinya penasaran.
Ini
adalah reaksi wajar ketika kau baru bertemu denganku, karena di sekolah
aku jarang sekali pergi untuk berinteraksi dengan orang lain, dan
saat istirahat pun aku hanya di kelas tidak pergi kemanapun dan saat
waktunya pulang juga aku segera bergegas menuju rumah, tidak mampir
kemanapun. Mungkin itu adalah kehidupan yang membosankan bagi banyak
orang. Tetapi, aku sangat menikmati hidup di duniaku yang kecil ini.
"Eemm.... Halo? Kau masih disitu kan?"
"Eh, ah.. iya, maaf tadi aku terlarut dalam pemikiran ku haha" jawabku.
"Namaku Hiro, salam kenal" kataku memperkenalkan diri
"Salam kenal juga, namaku Sumiya" balasnya sambil tersenyum. Sangat manis.
"Kau mau duduk dimana? Kalau kau mau, ambil saja tempat di belakang ku, belum ada yang menempati nya"
"Hmm, baiklah aku akan duduk di sana"
Setelah
itu aku kembali berbincang kembali dengan Sumiya, agak lama sampai Jam
pelajaran di mulai dan Wali Kelas kami masuk ke kelas.
"Selamat pagi semua, saya yang akan menjadi wali kelas kalian selama 1 tahun kedepan. Jadi, mohon kerja samanya. Karena kalian sudah saling mengenal, sepertinya tidak perlu lagi melakukan perkenalan. Kalau begitu, langsung saja kita mulai pelajaran nya".
***
Satu kata untuk
menggambarkan kehidupan sekolah ku. Membosankan. Ya, walaupun aku dan
Sumiya sudah saling kenal, tapi sejak saat kami tidak pernah mengobrol
lagi. Dia sudah disibukkan oleh dunia nya sendiri yang mungkin tidak
akan pernah kugapai. Dunia yang penuh dengan canda tawa dengan teman. Ah
sudahlah, saat ini yang kupikirkan hanya ketika aku sedang berbincang
dengannya. saat itu, ada sebuah perasaan yang tidak pernah kurasakan
sebelumnya. Rasa yang membuat ku merasa nyaman, sehingga aku ingin
mengobrol dengan waktu yang lama bersamanya. Setidaknya sampai aku tahu
kalau dia sudah tidak ada di dunia ini lagi.
15 Juli 2020, saat aku
mendengar kabar itu, entah kenapa rasanya sudah tidak ada lagi gunanya
aku untuk hidup. Semua terasa hampa dan tidak berarti, yang aku lakukan
hanya menutup diri di kamar karena kesedihan yang mendalam. Hubunganku
dengannya hanya sebatas teman yang tidak terlalu dekat. Tapi kenapa aku
merasa sesedih ini? Apa yang membuat ku bisa menjadi seperti ini?
Sebenarnya beberapa Minggu lalu Sumiya mengajakku untuk pergi keluar
bersamanya, mungkin ini bisa dibilang sebuah kencan. Kami memutuskan
untuk pergi ke taman bermain. Awalnya, semua masih sama seperti biasa
hingga sore hari saat ia mengajakku untuk menaiki sebuah bianglala. Ia
membuka percakapan diantara kami dengan kalimat.
"Lihat itu,
pemandangan yang sangat indah. Andai saja aku bisa melihat ini lebih
lama lagi" ucap sumiya dengan nada dan wajah yang melambangkan kesedihan
yang amat mendalam.
"Apa maksudmu?" Jawabku sambil memperhatikan wajahnya.
"Sebenarnya, aku mempunyai penyakit yang membuatku tidak bisa hidup lebih lama lagi"
"Dokter bilang, setidaknya hidupku paling lama hanya 2 bulan"
Seketika
semua hening, aku tidak tahu ingin menjawab apa. Aku sangat bingung.
Setelah itu tidak ada percakapan panjang di antara kami. Hingga kami pun
berpisah. Aku tidak menyangka, kenapa perpisahan ini bisa begitu cepat. Bahkan aku belum mengungkapkan perasaanku pada. Namun, takdir berkata lain.