Pagi yang cerah, sangat bagus untuk mengawali hari. Langit yang biru, udara yang segar, kiacauan merdu para burung dan aspal jalanan yang masih basah karena hujan semalam sepertinya akan menjadi teman diperjalananku untuk sementara.
Hari ini adalah hari pertama pergi ke sekolah setelah hampir 2 tahun tidak pernah melihat sekolah lagi karena pandemi yang melanda dunia. Rasanya sangat bersemangat bukan? Begitupun denganku, Sudah dari semalam aku menantikan momen ini. Dadaku berdebar kencang membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Dengan perasaan itu aku mengayuh sepedaku menelusuri jalan yang agaknya masih licin karena hujan pada malam hari.
Di tengah perjalanan itu aku berpapasan dengan seorang gadis berambut hitam panjang yang memakai seragam yang sama dengan yang aku kenakan. Wajahnya datar, tetapi jika kau melihatnya lebih lama kau akan tahu kalau dia sedang bersedih, berbeda sekali denganku yang sepertinya semua orang bisa tahu kalau aku sedang senang dengan hanya melihat wajahku sekilas. Menyadari hal itu, aku pun memperlambat ayuhan sepedaku dan mulai bertanya padanya. "Ada apa denganmu?" Ucapku untuk membuka percakapan. Awalnya ia seperti tidak ingin mengobrol denganku, tetapi setelah melihat wajahku dan seragam sekolah kita yang sama, ia mulai membuka suara "tidak apa, aku hanya masih bersedih karena nenekku meninggal kemarin" ungkapnya. "Aku turut berduka" kataku dengan nada pelan ikut bersimpati. Aku masih memperlambat ayuhan sepeda dan bertanya padanya "ingin kutemani sampai sekolah?" "Boleh saja, terimakasih" jawabnya "tidak usah kau pikirkan" kataku dengan tersenyum.
Sejujurnya dia sangat cantik kau tahu? Siapa yang tidak mau berangkat ke sekolah ditemani dengan wanita cantik? Sekolah sudah dekat dia meminta izin padaku untuk pergi duluan. Dia tidak ingin ada rumor aneh tentang aku dan dia, akupun mengiyakan itu dengan perasaan agak berat. "Aku Arfan" Spontan aku berteriak seperti itu padanya sebelum ia berjalan agak jauh dariku "Aku clarissa, salam kenal" jawabnya singkat dengan wajah tersenyum.
.
.
.
.
Aaagh... Hidup begitu tidak adil bukan? Saat yang lain bisa Merasakan berbagai kesenangan, Aku hanya dapat merasakan sedikit dari kesenangan itu. Sungguh, hanya karena kedua orangtuaku lah aku masih bertahan sampai sekarang. Benar - benar nasib diriku, banyak harapan yang harus aku bawa dipunggung ku, semakin hari semakin banyak saja harapan itu. Aku lelah ayah, ibu. Tapi apalah daya, takdir tidak berpihak padaku. Aku hanya bisa menangis meratapi setiap nasib yang kulalui. begitulah kira-kira secercah gambaran bagaimana hidupku selama ini. Dan aku hanya bisa menuangkan ini dalam tulisan.
Kehidupan ku mulai berubah sejak kami bertemu. Aku yang biasanya lebih suka berdiam di rumah sekarang lebih suka keluar rumah dan bersosialisasi dengan orang lain. Sedikit demi sedikit diriku mulai berubah walaupun ada hal yang pasti tidak bisa untuk kau ubah.
.
.
.
.
Sekolah telah usai, waktunya untuk pulang. Ini sudah bulan kedua sejak aku datang ke sekolah, ujian akhir semakin dekat dan aku sangat pusing memikirkan hal itu. Tapi aku sama sekali tidak belajar, aneh bukan? Aku sangat yakin dengan keburuntunganku.
Hari ini aku melihatnya berjalan sendiri saat pulang. Aku dengan semangat segera mendatangi nya. "Hai clar" sapaku, aku memang sudah lumayan akrab dengannya sekarang "arfan, kau belum pulang?" "Baru ingin pulang, aku melihat mu berjalan sendiri jadi aku mau menawari mu pulang bersama. Mau?" Tanyaku "kau tidak keberatan?" "Ya nggak lah, kalau aku keberatan aku tidak akan mengajakmu pulang bersama bukan? Haha" jawabku dengan sedikit tertawa "benar juga haha" dia pun tersenyum dan ikut tertawa kecil, senyumannya sangat mempesona. Aku selalu ingin melihatnya lagi dan lagi.
Di perjalanan tidak banyak yang kami bicarakan. Tapi aku merasa seperti ada benang yang menghubungkan kami, dan benang itu akan semakin dekat bahkan bisa juga semakin jauh seiring waktu berjalan.