“pagii Aru!” Dimas menyapaku, aku hanya membalas dengan senyum paksa
“ayo berangkat, lu udah sarapan belum? Kalau belum yok sarapan dulu di kantin”
“yuk, berangkat” kataku.
Ah iya, Dimas itu teman lelaki ku, dia selalu menjemput ku setiap pagi, kami dekat sejak rambutku masih dikepang dua.
“pagi Buu!”
“aihh, si cantik kaya biasa ya?”
“iya bu, kaya biasa”
“ru, lu gaada niatan buat nyari pacar gitu?”
“ga”.
Adalah yang kesekian kali Dimas menanyakan hal ini, sampai-sampai aku jengah dengan pertanyaan itu.
“gue punya kenalan ru, cakep, baik, terkenal juga anaknya, lu pasti suka”
“please jangan bikin gue marah, dim”
“nih cantik, pesanannya”
“makasiih ibuu!” jawabku sambil tersenyum.
Setelah habis, aku pun bergegas untuk masuk ke kelas, sedangkan dikelasnya itu sudah ada yang menunggunya. Saat tiba didepan pintu kelas seseorang menanyakan namaku
“Arunika ya?” aku menyipitkan mata
“darimana lu tau nama gue?”
“ah, ternyata benar ya. Kenalin gue Aditya dari kelas -” belum selesai dia memperkenalkan diri, Arunika sudah meninggalkannya, masuk ke dalam kelas. Bertepatan dengan itu, bel sudah berbunyi, terpaksa Aditya harus balik ke kelasnya.
Waktu istirahat telah tiba, Aditya kembali mendatangi kelas Aru, siapa tau dia belum ke kantin, dan dugaannya benar, dia pun langsung menghampiri Aru yang sedang tertidur di meja nya.
“permisi mbak, ini pesanannya” sambil menaruh roti dan susu
“aih, siapa si ganggu orang tidur aja”
“ini sekolah bukan rumahmu” Aru kenal suara ini, ah, dia pasti lelaki aneh tadi
“ck, lu ngapain si kesini”
“weey, santai dong, gamau minta maaf dulu kah?”, apa katanya? Minta maaf? Perasaan, aku tidak pernah berbuat salah ke dia.
“kenapa gue harus minta maaf ke lu? Bukannya lu yang seharusnya minta maaf karena ngeganggu gue?”
“gak ingat? Lu kemarin numpahin kopi gue, dan lu langsung pergi gitu aja, dan untuk yang ngeganggu lu itu gue minta maaf”
“ah, lu yang kemarin, yaudah gue minta maaf”.
Setelah itu, dia jadi sering mendatangi kelasku, selalu, tak pernah absen satu hari pun, kecuali Sabtu dan Minggu.
Dia pernah bertanya “lu jarang olahraga ya?”
“iya, membosankan”
“pantesan, gini deh lu mau ga tiap Sabtu-Minggu olahraga bareng gue, biar ga bosen, haha”
“boleh”.
Dia selalu mengajak ku pergi, dan anehnya aku tak keberatan. Pernah suatu ketika aku dan dia sedang jalan sore, tak disangka dia membawaku ke anak-anak yang berada di pinggiran jalan, mereka terlihat senang begitu melihat Aditya, Aditya menemani mereka bermain, menggambar, dan bernyanyi. Ah, aku baru tahu kalau dia juga terkenal di kalangan anak-anak.
Esok harinya, Aditya mengajak ku melukis, lukisannya sangat indah berbanding terbalik dengan punyaku.
“hahaha, kamu ngelukis apa itu, Aru?”
“jangan menertawakan lukisanku, aku sedang melukis lukisan karya Squidward” dia tertawa lagi, sampai air matanya keluar
“kamu lucu banget, Aru”
“lu manggil gue apa tadi? kamu?”
“eeh yaa, gapapa kan?”
“tentu”.
Setelah selesai melukis kita makan malam, lalu dia mengantar ku pulang. Setibanya di rumah, tiba-tiba ada cairan yang mengalir dari hidungku. Aku lupa, aku alergi terhadap udara dingin,
“aduh, kapas, kapas, aih kenapa setiap dibutuhkan dia selalu ngilangg”
hijab nya [kain untuk menutupi kepala] sudah basah karena darah
“ah, itu dia!” segera ia melepas hijab nya dan mencucinya. Setelah itu, dia tertidur.
Huftt, hari yang melelahkan.
Esok paginya, aku kembali bersekolah, baru saja sesuap nasi masuk ke mulutku, bel rumah berbunyi, aku segera membukakan pintu.
“lu kepagian tau dim, gue baru aja mau sarapan!”
“pagi, Arunika”
“lho? Kok bukan Dimas yang anterin aku ? Dimas kemana ?”
“udah gausah khawatirin Dimas, kamu berangkat sama saya hari ini”
“ya, tapi tunggu dulu aku menghabiskan sarapanku” setelah menghabiskan sarapannya Arunika berangkat bersama Aditya ke sekolah.
Ini seperti mimpi, dibonceng oleh seseorang yang aku sukai, aku tersenyum, tapi tidak lama setelah itu aku tersadar, sejak kapan? Sejak kapan perasaan suka ini muncul ? Sepanjang perjalanan aku mempertanyakan hal yang sama dalam pikiranku. Setibanya di sekolah, Aditya mengantarku lagi sampai didepan kelas, klise. Tapi apa kalian pernah merasakan kejadian klise ini?
Bel pulang sekolah berbunyi, Arunika segera menghampiri kelas Aditya, bergantian. Aditya merasa senang, lalu mereka pulang bersama. Saat ditengah perjalanan tiba-tiba hujan, sebenarnya dari masih di sekolah pun sudah gerimis.
“hujan nih ru, mau neduh dulu ga?”
“nggak, gausah. Aku mau main hujan-hujanan”
“haha, siap Tuan Putri”. Sepanjang perjalanan kami menerobos derasnya hujan, menyenangkan.
Sesampainya dirumah, Aru menawarkan Adit untuk singgah sebentar, sekedar meminum teh hangat, tapi Adit menolak, katanya tidak enak hati, yasudah kubiarkan ia pergi untuk pulang.
Sudah 6 bulan sejak pertemuanku dengan dia, rasanya benar-benar menyenangkan. Aku bahagia. Tapi, itu tandanya sebentar lagi dia akan lulus, waktu terasa singkat bila bersamanya.
Hari kelulusannya telah tiba, dan dia sudah tidak terlihat sejak beberapa Minggu yang lalu, aku ingin menanyakan dia ada dimana, dan sialnya aku tidak tau teman dekat dia. Ah, Dimas mungkin tau dia pergi kemana. Segera aku menuju ke rumahnya.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam” jawabnya,
“ada apa ru ?”
“dim, lu tau ga Aditya pergi kemana ?”
“ah, kalau itu gue gatau ru, tapi lu mungkin bisa tanyain ke teman dekatnya, nih alamatnya”
“terimakasih, dim”
“yo, sama-sama” . Setelah sampai di rumah yang alamatnya diberi oleh Dimas tadi, aku langsung mengetok pintu rumahnya.
“permisii”
“sebentar, gua bukain pintunya” ah, itu pasti teman dekatnya dia.
“ada perlu apa?”
“gini, gue Arunika temannya Aditya, katanya kakak ini teman dekatnya Adit ya?”
“ooh, Aru, iya gua deket sama Adit, kenapa?”
“kakak pasti tau dong, dimana Aditya sekarang”
“tau, dia di Aussie sekarang” setelah mendengar jawabannya, aku pun terdiam. Apa katanya? Aussie? Kenapa Aditya tidak pernah bicara kepadaku jika dia pindah ke Aussie?.
“hallooo, Arunika” sambil melambaikan tangannya didepan wajahku
“eeh iya, kalau boleh tau, kenapa Aditya pindah?”
“loh, lo gadikasih tau sama si Adit?"
Aku menggelengkan kepala
“pantesan, btw duduk dulu sini, dari tadi berdiri terus”
“oh iya kak”
“Aditya itu pergi ke Aussie beberapa Minggu yang lalu, karena dia mau kuliah disana, gua kira lo udah dikasih tau sama Adit--dia menceritakan semuanya”
“ah, kuliah ya,, terimakasih kak”
“iya sama-sama”
“yaudah, gue pulang dulu ya kak”
“iya, hati-hati”. Saat di perjalanan pulang, tanpa sadar air mataku menetes. Ah, aku berharap apa sih, berharap dia akan memberitahu ku tentang kepergiannya ke Aussie? Memangnya aku siapa bagi dirinya. Setibanya dirumah, aku langsung mengecek handphone ku
*Ting
Sebuah pesan dari nomor tak dikenal, masuk ke dalam handphone ku.
08×××789××
“Maaf ru, tunggu saya ya. Saya pasti akan kembali.”
5 tahun kemudian..
Sejak kejadian itu, aku jadi memiliki hobi baru yaitu memotret. Aku baru sadar, bahwa ketika dia masih disini, kami tidak pernah punya foto. Selain menjadi hobi, memotret juga adalah kerja sampinganku, yup, fotografer.
Sore hari, saat aku sedang asik memotret bunga di taman, tiba-tiba ada yang menghampiriku, dia berkata
“Arunika ya?” tanyanya.
Aku yang sedang terhanyut dengan keindahan bunga itu hanya menjawab seadanya tanpa menoleh kearah orang itu. Merasa diabaikan, orang itu kemudian mengambil kamera ku lalu berkata
“Arunika sudah berubah ya, apa kamu masih mengenal saya?”.
Arunika yang kesal karena kamera nya diambil oleh orang asing pun ingin memakinya, tapi, kalimat makian itu hilang seketika ketika Arunika menoleh dan melihat siapa orang asing itu. Rupanya itu Aditya, pria yang selama ini Arunika tunggu. Tanpa sadar air matanya mengalir, Aditya yang kaget akan reaksinya langsung memeluknya lalu berkata
“saya kembali Aru, saya kembali seperti janji saya dulu”. Setelah cukup tenang, Arunika melepaskan pelukan dari Aditya. Dia menatap Aditya lalu berkata
“ini bukan mimpi kan dit ? Kalau ini mimpi aku gamau bangun dari mimpi ini”
“nope, ini bukan mimpi, Arunika. Ini nyata” jawabnya.
*3 bulan setelah pertemuan itu
Tibalah hari itu, hari berbahagia dan terburuk dalam hidup Arunika dan Aditya. Mereka akan menikah.
“will you marry me?” ucap Aditya
“yes, i will” jawabnya.
*Cekrek
Seseorang memfoto pengantin baru itu, tebaklah siapa yang memfoto mereka ? Ya, kalian benar. Orang itu adalah aku, Arunika.
Setelah menunggu Aditya dengan waktu yang cukup lama, akhirnya Aditya kembali. Bukan kembali untukku ternyata, tapi kembali untuk melangsungkan pernikahannya disini, bersama gadis cantik nan beruntung itu.
• Terimakasih Aditya, terimakasih banyak karena telah singgah di hidupku, walau hanya sebentar. Aku bahagia, karena kamulah yang menjadi cinta pertamaku, walau pada akhirnya kau memilih untuk pergi.