"Saya tidak membaca buku, saya mengobrol dengan si pengarangnya." - Elbert Hubbard

Kaulah Pahlawan Ku | Bagian 1

BAB I

Sudahi Tangismu

Setelah Andhin dan mamahnya di rawat beberapa hari, akhirnya mereka berdua pulang ke rumah. Aku yang sedang bermain di teras rumah, terkejut  melihat mamahnya Andhin menangis. Andhin dan mamahnya segera masuk ke rumahnya. Beberapa jam berlalu ayah dan ibu ku mengajak ku untuk ke rumah Andhin. Aku melihat jam menunjukan pukul 4 sore.

“Zar, kita ke rumah Andhin yuk. Kita jenguk dia sama mamah nya, sekalian kita bawain kue ini buat nanti malam tahlilan.” Ku melihat ayah ku berpakaian rapih sekali. Diapun menggendongku dan kami bertiga menuju ke rumah Andhin.

“Assalamu”alaikum Bu Marwah.” Ayah ku sambil mengetuk pintu rumahnya Andhin.

“Wa’alaikumsalam, iya sebentar yaa.” Suara mamahnya Andhin terdengar sampai kedepan rumah.

“Eh, ada Pak Anwar dan Bu Siti, eh De Zar juga ikut. Mari sini masuk, maaf yaa rumah nya berantakan, belum sempat saya rapihkan.” Aku melihat dia sedang membereskan karpet untuk kami duduk.

Aku melihat Andhin sedang duduk di depan tv sambil memainkan Hp di tangannya. Akupun menghampiri Andhin dan mengajaknya bermain. Namun dia hanya terdiam dan dia memanggil ayahnya berkali kali. Akhirnya aku kembali ke pangkuan ibuku, tak lama mamahnya Andhin kembali ke ruang tamu.

“Pak, bu, Maafin suami saya bila ada salah ya, maafkan suami saya jika selama hidupnya dia berbuat salah.” Ucap mamah Andhin sambil mengelap air mata yang mengalir di pipinya dengan tisu.

Aku baru paham, jika ayahnya Andhin telah meninggal saat kecelakaan beberapa pekan yang lalu. Pantas saja, yang biasanya aku melihat Andhin ceria, kini tak seceria sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku pun kembali menghampiri Andhin.

“Andhin,yang sabar yaa.” Ucap ku sambil memegang tangan Andhin.

“Sabar untuk apa?” Pertanyaan Andhin membuat ku bingung, aku melihat air mata menetes di pipinya. Aku pun mengelap air mata tersebut dan memeluk Andhin.

Aku pun kembali ke ayah ku dan membisikkan “Ayah, kasihan Andhin. Apa aku harus memberi tahunya?” Aku melihat ayah ku hanya terdiam lalu dia mengajak ku keluar.

“Jangan sekarang, nak.” Seketika aku paham dengan semua yang terjadi dengan begitu cepat.

Ayah ku mengajak aku masuk lagi, aku terkejut saat aku melihat Andhin yang berada di depan ku. Kemudian dia mengajak ku untuk menonton salah satu video di Hp nya. Ku kira dia ingin menunjukan film kartun yang baru saja dia tonton. ternyata aku salah. Vidio yang memperlihatkan prosesi pemakaman.

“Ini siapa Dhin?” Tanya ku sambil menunjuk ke bungkusan panjang berwarna putih seperti sebutir nasi raksasa.

“Itu ayah aku.” Ucapnya sambil menahan tangis.

Aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Aku pun langsung memeluk Andhin yang sedang menangis itu. “Udah eh nangisnya, jangan nangis lagi.” Aku berusaha untuk menghibur Andhin agar tak menangis lagi.

Sepulang dari rumah Andhin, aku mengobrol kepada ayah dan ibu agar mereka membantu Andhin. Ayah dan ibu setuju dengan usulan ku. Saat malam harinya, aku tak sengaja menguping pembicaran kedua orang tua ku.

“Mas yakin mau bantu segala kebutuhan keluarga Almarhum Pak Sulaiman?” Ibuku sambil membawakan air minum untuk ayah.

“Ya kenapa toh? Dulu kan kita juga dibantu sama keluarga Almarhum, anak kita juga berteman dekat dengan anaknya. Apa salahnya jika sekarang kita yang membantu?” Ayah ku menjawab tegas sambil membalikan halaman Koran yang sedang dibacanya.

Ibu ku pun terdiam...

Esoknya, aku menghampiri rumah Andhin pada pukul 10 pagi. “Asslamu’alaikum, Andhin!” teriak ku dari depan rumah nya.

“Wa’alaikumussalam, eh Zar ada apa?” Andhin keluar rumah nya dengan mata sebam terlihat habis menangis dahsyat.

Aku pun memegang tangannya. “Yang sabar yaa, kamu kuat.” Ku peluk dia.

“Terimakasih ya Zar.” Aku melepaskan pelukan ku dan mengajaknya bermain di taman. Namun ia menolak karena dia ingin membantu mamahnya untuk mempersiapkan acarta tahlilan di malam harinya.

Aku pun pulang ke rumah dan memanggil ibu ku.

“Bu, Assalamu'alaikum. Bu, tadi katanya Andhin nanti malam mau ada tahlilan di rumahnya aku liat tadi hanya Andhin dan mamah nya yang menyiapkan untuk acara.” Ucap ku sambil mengambil air di atas meja.

“Iya nak, nanti ibu kesana.” Ucap ibuku dengan tenang.

Malam hari pun tiba dan acara tahlilan berjalan lancar, aman dan damai.

Cerita Populer Minggu Ini