"Saya tidak membaca buku, saya mengobrol dengan si pengarangnya." - Elbert Hubbard
Berakhir sudah | Part 2

Berakhir sudah | Part 2

    



Sudah dua minggu sejak kami memulai Ujian akhir di Rumah, berarti sudah dua minggu pula kami tidak bertemu. Aku dipilih untuk menjadi panitia pelantikan OSIS yang baru. Tentu saja ini bukan yang Aku inginkan, Aku hanya ingin bersantai di rumah menikmati hari dengan kegiatan seminimal mungkin. Tapi tunggu, sepertinya aku melihat seseorang yang aku kenal di tempat rapat panitia. Ya itu benar, Clarissa. Aku menjadi bersemangat sekarang. 
   
 Aku memasuki ruangan melangkahkan kaki menuju Clarissa. 

"Hai clar, aku tidak menyangka kau ikut menjadi panitia juga" sapaku padanya. 

"Apa kau tidak tahu kalau aku salah satu anggota OSIS lama?" Jawabnya dengan sedikit tertawa kecil. 

"Tentu saja tidak, para guru bahkan tidak memberitahu kalau akan ada pemilihan ketua OSIS setahun yang lalu" 

"kau benar juga, lalu bagaimana dengan ujian kemarin, Apa kau bisa mengerjakanya?" Clarissa mulai mengganti topik tentang ujian kemarin 

"Oh ayolah Clar, masih banyak topik yang bisa kita bicarakan selain itu" 

"Aku kerjasama dengan teman-teman yang lain, jadi tentu saja bisa" lanjutku. 

"Apa? Bagaimana caranya?" Clarissa bingung dengan jawabanku. 

"Memangnya kau tidak seperti itu juga? Padahal teman-teman yang lain saling berkoordinasi satu sama lain saat Banyak jalan menuju Roma Clar" Aku menjelaskan padanya dengan sedikit mengutip perkataan guru matematika kami saat memberitahu kalau banyak cara yang bisa digunakan untuk memecahkan soal matematika. 

"Tetapi tetap saja itu cara yang salah Arfan"

 "Aku setuju denganmu, walaupun...." entahlah aku tidak bisa melanjutkan perkataan ku
 
   Hasil rapat telah keluar, tugasku tidak terlalu penting dan memang itu yang Aku inginkan. Saat Aku ingin keluar ruangan segera pulang, tiba-tiba Clarissa mendatangiku. 

"Kau sudah mau pulang?"

 "Ya, aku harus segera pulang" 

"Tidak mau bersama denganku?" 

"Tidak usah, aku sedang ingin sendiri" kau tahu kenapa aku menolak tawarannya? Saat rapat berlangsung Adikku mengirim pesan kalau Ibuku sedang dibawa ke rumah sakit, ia terjatuh saat sedang berjalan dari pasar dan tidak sadarkan diri. Moodku seketika hancur, hanya rasa cemas yang ada diriku sehingga aku ingin cepat-cepat ke rumah untuk melihat keadaannya. 

    "Bagaimana?" Tanyaku dengan sedikit panik. 

"Untungnya bukan hal yang serius, ibu hanya terlalu kecapekan kata dokter jadi bisa langsung pulang" jawab adikku dengan tenang. 

"Syukurlah" Aku sangat senang mendengarnya, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
.
.
.
.
    Setelah berbagai usaha, akhirnya persiapan untuk pelantikan OSIS sudah selesai. "Sangat melelahkan ya Fan" Fadli berbicara dengan sedikit tersengal nafasnya. 

"Ya kau benar, memang sudah nasib kita menjadi babu untuk acara ini" jawabku. 
 
   "Oke semua, terimakasih atas kerja 

kerasnya, akhirnya persiapan untuk acara besok telah selesai. Untuk besok jangan lupa untuk datang lebih pagi" Seru ketua panitia kepada kami, aku hanya diam mendengar itu. Aku sedang duduk dan fokus memerhatikan dari kejauhan seseorang yang pastinya sudah bisa kalian tebak siapa itu. 
.
.
.
    Langit mendung dipagi hari seperti sedih karena sesuatu yang akan terjadi. Tapi, tidak seorangpun peduli tentang itu. Mereka beraktifitas seperti biasa. Akupun sama, tidak peduli tentang itu. Dipikiranku hanya ada clar, clar dan clar, entah kenapa aku menjadi seperti ini. 
  
  Sekolah sudah ramai saat aku datang, sepertinya aku sedikit terlambat. 

"Hei Arfan, kenapa kau berdiam disitu, Segera bantu kami disini!" Teriak salah satu anggota panitia. 

"Ya, Aku segera datang" balasku sambil 
berlari kecil kearahnya.
 
   Kegiatan hari ini berjalan seperti yang direncanakan. Walau ada beberapa masalah kecil tapi kami bisa mengatasinya. Aku sedang duduk di salah satu bangku di belakang sekolah, Clarissa menghampiri ku sembari menjulurkan tangan memberi sebotol minuman 

"Ternyata kau ada disini, aku sudah mencarimu ke seluruh bagian sekolah. Teman-teman yang lain ingin makan-makan, apa kau tidak mau ikutan?" 

"Tidak terimakasih"

"Kalau begitu mau pulang bersama? Aku tidak menerima penolakan. Kemarin kau sudah menolaknya"

"Hmm" 

"Baiklah kalau begitu aku akan menunggumu di depan pintu sekolah setelah semua selesai"

"Aku bahkan belum memberikan jawaban" Aku berteriak ke arahnya.
Clarissa berjalan menjauhiku sambil tertawa.
.
.
.
"Kemana saja kau? Aku sudah menunggumu sejak 10 menit yang lalu" ujar Clarissa dengan sedikit nada kesal.

"Ah, ternyata kau masih disini. Sengaja aku datang agak terlambat membiarkanmu agar pulang sendiri"

"Jahat"

"Haha, sejak kapan aku bilang kalau aku orang baik?" Ucapku sambil berjalan keluar pagar.

"Hei tunggu! Mau kemana kau?"

"Tentu saja pulang, kau tidak mau ikut?"

"Awas kau nanti!" Ancamnya.
    
Ternyata ancaman itu bukan hanya keluar dari mulut, seketika ia berlari dan memukul dengan sangat keras ke punggung ku. 

"Aw, itu sakit"

"Hahaha, rasakan" 
 
   Puas ia tertawa. Kini gantian aku mengejar dan mencoba menangkapnya, tak mau kalah ia juga berlari dan berusaha menghindar dari tanganku. Ini sangat seru, kami tak bisa berhenti tertawa saat itu.

"Sudah..sudah Fan, aku capek"

"Haah.. iya, kita berhenti saja dulu disana untuk membeli minum"

"Kamu mau minum apa? Biar aku yang bayar" tawarku.

"Tidak usah, Aku bawa uang kok"

"Hm, baiklah kalau begitu"   
 
   Saat sedang minum bersama, di depan kami ada seorang anak kecil yang ingin menyeberang, ia mulai melangkah tanpa memperhatikan sekitarnya. 
   
 Sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi dari arah kanan anak itu, Aku yang melihat nya seketika berlari kencang dan mendorongnya ke arah depan. Namun sayang, sebelum Aku sempat mengelak truk itu sudah terlebih dahulu menyambar tubuhku. 

    Seluruh tubuhku seperti remuk di hantam oleh truk. Darahku mendidih karena mengalir di aspal yang panas. Kepalaku pusing, teriakan orang-orang dan Clarissa menggema di telinga ku. Pandangan ku mulai gelap. Mata ku tertutup walau aku ingin sekali membukanya dan mengatakan kalau aku baik-baik saja. Bayangan kedua orangtuaku seketika muncul ditengah kegelapan itu. 
  
  "Berakhir sudah hidupku sebelum aku bisa membahagiakan kalian" Kataku dalam hati.

"Berakhir.......? Ini baru permulaan..."
-END-









Kaulah Pahlawan Ku | Bagian 1

Kaulah Pahlawan Ku | Bagian 1

BAB I

Sudahi Tangismu

Setelah Andhin dan mamahnya di rawat beberapa hari, akhirnya mereka berdua pulang ke rumah. Aku yang sedang bermain di teras rumah, terkejut  melihat mamahnya Andhin menangis. Andhin dan mamahnya segera masuk ke rumahnya. Beberapa jam berlalu ayah dan ibu ku mengajak ku untuk ke rumah Andhin. Aku melihat jam menunjukan pukul 4 sore.

“Zar, kita ke rumah Andhin yuk. Kita jenguk dia sama mamah nya, sekalian kita bawain kue ini buat nanti malam tahlilan.” Ku melihat ayah ku berpakaian rapih sekali. Diapun menggendongku dan kami bertiga menuju ke rumah Andhin.

“Assalamu”alaikum Bu Marwah.” Ayah ku sambil mengetuk pintu rumahnya Andhin.

“Wa’alaikumsalam, iya sebentar yaa.” Suara mamahnya Andhin terdengar sampai kedepan rumah.

“Eh, ada Pak Anwar dan Bu Siti, eh De Zar juga ikut. Mari sini masuk, maaf yaa rumah nya berantakan, belum sempat saya rapihkan.” Aku melihat dia sedang membereskan karpet untuk kami duduk.

Aku melihat Andhin sedang duduk di depan tv sambil memainkan Hp di tangannya. Akupun menghampiri Andhin dan mengajaknya bermain. Namun dia hanya terdiam dan dia memanggil ayahnya berkali kali. Akhirnya aku kembali ke pangkuan ibuku, tak lama mamahnya Andhin kembali ke ruang tamu.

“Pak, bu, Maafin suami saya bila ada salah ya, maafkan suami saya jika selama hidupnya dia berbuat salah.” Ucap mamah Andhin sambil mengelap air mata yang mengalir di pipinya dengan tisu.

Aku baru paham, jika ayahnya Andhin telah meninggal saat kecelakaan beberapa pekan yang lalu. Pantas saja, yang biasanya aku melihat Andhin ceria, kini tak seceria sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku pun kembali menghampiri Andhin.

“Andhin,yang sabar yaa.” Ucap ku sambil memegang tangan Andhin.

“Sabar untuk apa?” Pertanyaan Andhin membuat ku bingung, aku melihat air mata menetes di pipinya. Aku pun mengelap air mata tersebut dan memeluk Andhin.

Aku pun kembali ke ayah ku dan membisikkan “Ayah, kasihan Andhin. Apa aku harus memberi tahunya?” Aku melihat ayah ku hanya terdiam lalu dia mengajak ku keluar.

“Jangan sekarang, nak.” Seketika aku paham dengan semua yang terjadi dengan begitu cepat.

Ayah ku mengajak aku masuk lagi, aku terkejut saat aku melihat Andhin yang berada di depan ku. Kemudian dia mengajak ku untuk menonton salah satu video di Hp nya. Ku kira dia ingin menunjukan film kartun yang baru saja dia tonton. ternyata aku salah. Vidio yang memperlihatkan prosesi pemakaman.

“Ini siapa Dhin?” Tanya ku sambil menunjuk ke bungkusan panjang berwarna putih seperti sebutir nasi raksasa.

“Itu ayah aku.” Ucapnya sambil menahan tangis.

Aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Aku pun langsung memeluk Andhin yang sedang menangis itu. “Udah eh nangisnya, jangan nangis lagi.” Aku berusaha untuk menghibur Andhin agar tak menangis lagi.

Sepulang dari rumah Andhin, aku mengobrol kepada ayah dan ibu agar mereka membantu Andhin. Ayah dan ibu setuju dengan usulan ku. Saat malam harinya, aku tak sengaja menguping pembicaran kedua orang tua ku.

“Mas yakin mau bantu segala kebutuhan keluarga Almarhum Pak Sulaiman?” Ibuku sambil membawakan air minum untuk ayah.

“Ya kenapa toh? Dulu kan kita juga dibantu sama keluarga Almarhum, anak kita juga berteman dekat dengan anaknya. Apa salahnya jika sekarang kita yang membantu?” Ayah ku menjawab tegas sambil membalikan halaman Koran yang sedang dibacanya.

Ibu ku pun terdiam...

Esoknya, aku menghampiri rumah Andhin pada pukul 10 pagi. “Asslamu’alaikum, Andhin!” teriak ku dari depan rumah nya.

“Wa’alaikumussalam, eh Zar ada apa?” Andhin keluar rumah nya dengan mata sebam terlihat habis menangis dahsyat.

Aku pun memegang tangannya. “Yang sabar yaa, kamu kuat.” Ku peluk dia.

“Terimakasih ya Zar.” Aku melepaskan pelukan ku dan mengajaknya bermain di taman. Namun ia menolak karena dia ingin membantu mamahnya untuk mempersiapkan acarta tahlilan di malam harinya.

Aku pun pulang ke rumah dan memanggil ibu ku.

“Bu, Assalamu'alaikum. Bu, tadi katanya Andhin nanti malam mau ada tahlilan di rumahnya aku liat tadi hanya Andhin dan mamah nya yang menyiapkan untuk acara.” Ucap ku sambil mengambil air di atas meja.

“Iya nak, nanti ibu kesana.” Ucap ibuku dengan tenang.

Malam hari pun tiba dan acara tahlilan berjalan lancar, aman dan damai.

Kaulah, Pahlawanku. (Prolog)

Kaulah, Pahlawanku. (Prolog)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

        Perkenalkan, nama ku Zar. Aku ingin menceritakan kisah teman ku, dimana dia hidup berdua dengan ibunya saja. Oiya, teman ku bernama Andhin, dia ku kenal saat kita berdua masuk TK. 

        Aku dan Andhin berteman dekat, kemana mana selalu berdua dan orang tua kami pun sangat akrab. Okay langsung saja kita masuk ke ceritanya Andhin....

        Andhin, anak yang ceria dan senang sekali dengan bunga dan balon. Hal yang paling ia tak sukai adalah perpisahan dan tangisan.

       Suatu hari, Keluarga ku dan keluarga Andhin ingin pergi ke Bndung. Saat itu, usia kami 9 tahun. Aku dan Andhin di mobil yang berbeda. Dia bersama keluarganya, Aku bersama keluargaku.
Saat sudah di pertengahan jalan, tepatnya di jalan Tol Km 98 Tol Purbaleunyi kebetulan posisi mobil keluarga ku cukup jauh di belakang mobil keluarganya Andhin. Hal tragis pun harus ku saksikan dan hal tragis itu pula yang harus Andhin alami. Di lajur kiri jalan Tol tersebut, mobil Andhin tergelincir ke bahu jalan dan menabrak pembatas jalan dengan kencang sehingga terguling keluar jalan Tol. Ayah ku reflek dan langsung menepikan mobilnya ke bahu jalan Tol an menghampiri mobilnya Andhin yang berada di luar jalan tersebut. Aku melihat ayah ku mengambil hanphone dari saku kantong celananya.

        Tak lama setelah ayah ku menelpon, aku pun ingin turun dari mobil. Namun ibu melarang ku.

        “Disini saja Nak, jangan keluar” Kata Ibu sambil memegang tangan ku.
Menunggu ayah lumayan lama, aku melihat ayah dihampiri petugas kepolisian.

        “Bu, kenapa ayah di hampiri petugas? Ayah salah apa?”

        “Ayah tadi menelpon petugas jalan Tol, Nak.” Ibu menjawab pertanyaan ku dengan mata berair.

        Sekitar 5 menit, Ambulance datang. Ayah ku masuk ke mobil dan mengikuti ambulance tadi sampai ke rumah sakit terdekat. Aku tak sempat melihat kondisi nya, yang aku lihat ayah dan ibu terlihat kebingungan.
Sesampainya di Rumah Sakit, ayah pun bercerita kepadaku.

        “Nak, yuk kita do’a in teman kamu si Andhin.”

        “Memang Andhin kenapa, Yah?” Aku kebingungan dan perasaan ku mulai tak enak.

        “Tadi kamu lihat kan? Mobil ayahnya Andhin kecelakaan. Kita do’akan agar mereka semua selamat.” kata ayah ku.

        Ibu ku tiba tiba menelpon. “MAS CEPAAT KESINI!!!” Suara ibu terdengar panik. Aku dan ayah ku bergegas ke tempat ibu.

        “Ada apa Bu?” Ayah yang sambil menggendong ku dan menghela napas.

        “Ayahnya Andhin wafat, Mas.” Kata ibu ku sambil memeluk ayah ku.

        “Innalillahi wainnailaihi roji’un. Sekarang keadaan Andhin dengan Ibunya gimana, Mah?” Kata ayah ku.

        “Ibu tadi dibilangin sama Dokter, katanya Andhin dan Ibunya harus di rawat beberapa hari karena harus memulihkan luka nya.” Gantian sekarang ibu memeluk ku.

        “Apa pihak keluarga mereka udah tau tentang ini, Bu?” Ayah ku mengambil handphone nya.

        “Sudah, Ibu sudah telpon ke saudaranya mamah Andhin dan ke saudaranya ayah Andhin juga.”

        “Baguslah.” Kata ayah ku.
   
    Aku yang masih kebingungan pun tak bisa berkata apa apa.

Kamu, Matahariku.

Kamu, Matahariku.

 





Pertemuan pertama kami berawal dari aku yang tidak sengaja menabrak dan menumpahkan kopi yang dia bawa, setelah itu aku langsung berlalu pergi begitu saja, tanpa meminta maaf, tidak sempat, tapi terlihat jelas dia kesal. Siapa sangka kejadian itulah yang membuat kami menjadi dekat. 



“pagii Aru!” Dimas menyapaku, aku hanya membalas dengan senyum paksa 

“ayo berangkat, lu udah sarapan belum? Kalau belum yok sarapan dulu di kantin” 

“yuk, berangkat” kataku. 

Ah iya, Dimas itu teman lelaki ku, dia selalu menjemput ku setiap pagi, kami dekat sejak rambutku masih dikepang dua. 



“pagi Buu!” 

“aihh, si cantik kaya biasa ya?” 

“iya bu, kaya biasa” 

“ru, lu gaada niatan buat nyari pacar gitu?” 

“ga”. 

Adalah yang kesekian kali Dimas menanyakan hal ini, sampai-sampai aku jengah dengan pertanyaan itu. 

“gue punya kenalan ru, cakep, baik, terkenal juga anaknya, lu pasti suka” 

“please jangan bikin gue marah, dim” 

“nih cantik, pesanannya” 

“makasiih ibuu!” jawabku sambil tersenyum. 

Setelah habis, aku pun bergegas untuk masuk ke kelas, sedangkan dikelasnya itu sudah ada yang menunggunya. Saat tiba didepan pintu kelas seseorang menanyakan namaku 

“Arunika ya?” aku menyipitkan mata 

“darimana lu tau nama gue?” 

“ah, ternyata benar ya. Kenalin gue Aditya dari kelas -” belum selesai dia memperkenalkan diri, Arunika sudah meninggalkannya, masuk ke dalam kelas. Bertepatan dengan itu, bel sudah berbunyi, terpaksa Aditya harus balik ke kelasnya. 



Waktu istirahat telah tiba, Aditya kembali mendatangi kelas Aru, siapa tau dia belum ke kantin, dan dugaannya benar, dia pun langsung menghampiri Aru yang sedang tertidur di meja nya. 

“permisi mbak, ini pesanannya” sambil menaruh roti dan susu 

“aih, siapa si ganggu orang tidur aja” 

“ini sekolah bukan rumahmu” Aru kenal suara ini, ah, dia pasti lelaki aneh tadi

 “ck, lu ngapain si kesini” 

“weey, santai dong, gamau minta maaf dulu kah?”, apa katanya? Minta maaf? Perasaan, aku tidak pernah berbuat salah ke dia.

“kenapa gue harus minta maaf ke lu? Bukannya lu yang seharusnya minta maaf karena ngeganggu gue?” 

“gak ingat? Lu kemarin numpahin kopi gue, dan lu langsung pergi gitu aja, dan untuk yang ngeganggu lu itu gue minta maaf” 

“ah, lu yang kemarin, yaudah gue minta maaf”.



Setelah itu, dia jadi sering mendatangi kelasku, selalu, tak pernah absen satu hari pun, kecuali Sabtu dan Minggu. 

Dia pernah bertanya “lu jarang olahraga ya?” 

“iya, membosankan” 

“pantesan, gini deh lu mau ga tiap Sabtu-Minggu olahraga bareng gue, biar ga bosen, haha” 

“boleh”. 

Dia selalu mengajak ku pergi, dan anehnya aku tak keberatan. Pernah suatu ketika aku dan dia sedang jalan sore, tak disangka dia membawaku ke anak-anak yang berada di pinggiran jalan, mereka terlihat senang begitu melihat Aditya, Aditya menemani mereka bermain, menggambar, dan bernyanyi. Ah, aku baru tahu kalau dia juga terkenal di kalangan anak-anak. 



Esok harinya, Aditya mengajak ku melukis, lukisannya sangat indah berbanding terbalik dengan punyaku. 

“hahaha, kamu ngelukis apa itu, Aru?” 

“jangan menertawakan lukisanku, aku sedang melukis lukisan karya Squidward” dia tertawa lagi, sampai air matanya keluar 

“kamu lucu banget, Aru” 

“lu manggil gue apa tadi? kamu?” 

“eeh yaa, gapapa kan?” 

“tentu”. 

Setelah selesai melukis kita makan malam, lalu dia mengantar ku pulang. Setibanya di rumah, tiba-tiba ada cairan yang mengalir dari hidungku. Aku lupa, aku alergi terhadap udara dingin, 

“aduh, kapas, kapas, aih kenapa setiap dibutuhkan dia selalu ngilangg” 

hijab nya [kain untuk menutupi kepala] sudah basah karena darah 

“ah, itu dia!” segera ia melepas hijab nya dan mencucinya. Setelah itu, dia tertidur.

Huftt, hari yang melelahkan.



Esok paginya, aku kembali bersekolah, baru saja sesuap nasi masuk ke mulutku, bel rumah berbunyi, aku segera membukakan pintu. 

“lu kepagian tau dim, gue baru aja mau sarapan!” 

“pagi, Arunika” 

“lho? Kok bukan Dimas yang anterin aku ? Dimas kemana ?” 

“udah gausah khawatirin Dimas, kamu berangkat sama saya hari ini” 

“ya, tapi tunggu dulu aku menghabiskan sarapanku” setelah menghabiskan sarapannya Arunika berangkat bersama Aditya ke sekolah. 

Ini seperti mimpi, dibonceng oleh seseorang yang aku sukai, aku tersenyum, tapi tidak lama setelah itu aku tersadar, sejak kapan? Sejak kapan perasaan suka ini muncul ? Sepanjang perjalanan aku mempertanyakan hal yang sama dalam pikiranku. Setibanya di sekolah, Aditya mengantarku lagi sampai didepan kelas, klise. Tapi apa kalian pernah merasakan kejadian klise ini?



Bel pulang sekolah berbunyi, Arunika segera menghampiri kelas Aditya, bergantian. Aditya merasa senang, lalu mereka pulang bersama. Saat ditengah perjalanan tiba-tiba hujan, sebenarnya dari masih di sekolah pun sudah gerimis. 

“hujan nih ru, mau neduh dulu ga?” 

“nggak, gausah. Aku mau main hujan-hujanan” 

“haha, siap Tuan Putri”. Sepanjang perjalanan kami menerobos derasnya hujan, menyenangkan. 

Sesampainya dirumah, Aru menawarkan Adit untuk singgah sebentar, sekedar meminum teh hangat, tapi Adit menolak, katanya tidak enak hati, yasudah kubiarkan ia pergi untuk pulang.



Sudah 6 bulan sejak pertemuanku dengan dia, rasanya benar-benar menyenangkan. Aku bahagia. Tapi, itu tandanya sebentar lagi dia akan lulus, waktu terasa singkat bila bersamanya.



Hari kelulusannya telah tiba, dan dia sudah tidak terlihat sejak beberapa Minggu yang lalu, aku ingin menanyakan dia ada dimana, dan sialnya aku tidak tau teman dekat dia. Ah, Dimas mungkin tau dia pergi kemana. Segera aku menuju ke rumahnya. 

“Assalamualaikum” 

“Waalaikumsalam” jawabnya, 

“ada apa ru ?” 

“dim, lu tau ga Aditya pergi kemana ?” 

“ah, kalau itu gue gatau ru, tapi lu mungkin bisa tanyain ke teman dekatnya, nih alamatnya” 

“terimakasih, dim” 

“yo, sama-sama” . Setelah sampai di rumah yang alamatnya diberi oleh Dimas tadi, aku langsung mengetok pintu rumahnya. 

“permisii” 

“sebentar, gua bukain pintunya” ah, itu pasti teman dekatnya dia. 

“ada perlu apa?” 

“gini, gue Arunika temannya Aditya, katanya kakak ini teman dekatnya Adit ya?” 

“ooh, Aru, iya gua deket sama Adit, kenapa?” 

“kakak pasti tau dong, dimana Aditya sekarang” 

“tau, dia di Aussie sekarang” setelah mendengar jawabannya, aku pun terdiam. Apa katanya? Aussie? Kenapa Aditya tidak pernah bicara kepadaku jika dia pindah ke Aussie?. 

“hallooo, Arunika” sambil melambaikan tangannya didepan wajahku 

“eeh iya, kalau boleh tau, kenapa Aditya pindah?” 

“loh, lo gadikasih tau sama si Adit?" 

Aku menggelengkan kepala 

“pantesan, btw duduk dulu sini, dari tadi berdiri terus” 

“oh iya kak” 

“Aditya itu pergi ke Aussie beberapa Minggu yang lalu, karena dia mau kuliah disana, gua kira lo udah dikasih tau sama Adit--dia menceritakan semuanya” 

“ah, kuliah ya,, terimakasih kak” 

“iya sama-sama” 

“yaudah, gue pulang dulu ya kak” 

“iya, hati-hati”. Saat di perjalanan pulang, tanpa sadar air mataku menetes. Ah, aku berharap apa sih, berharap dia akan memberitahu ku tentang kepergiannya ke Aussie? Memangnya aku siapa bagi dirinya. Setibanya dirumah, aku langsung mengecek handphone ku

*Ting

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal, masuk ke dalam handphone ku. 

08×××789××

“Maaf ru, tunggu saya ya. Saya pasti akan kembali.”



 5 tahun kemudian..



Sejak kejadian itu, aku jadi memiliki hobi baru yaitu memotret. Aku baru sadar, bahwa ketika dia masih disini, kami tidak pernah punya foto. Selain menjadi hobi, memotret juga adalah kerja sampinganku, yup, fotografer. 

Sore hari, saat aku sedang asik memotret bunga di taman, tiba-tiba ada yang menghampiriku, dia berkata 

“Arunika ya?” tanyanya. 

Aku yang sedang terhanyut dengan keindahan bunga itu hanya menjawab seadanya tanpa menoleh kearah orang itu. Merasa diabaikan, orang itu kemudian mengambil kamera ku lalu berkata 

“Arunika sudah berubah ya, apa kamu masih mengenal saya?”. 

Arunika yang kesal karena kamera nya diambil oleh orang asing pun ingin memakinya, tapi, kalimat makian itu hilang seketika ketika Arunika menoleh dan melihat siapa orang asing itu. Rupanya itu Aditya, pria yang selama ini Arunika tunggu. Tanpa sadar air matanya mengalir, Aditya yang kaget akan reaksinya langsung memeluknya lalu berkata 

“saya kembali Aru, saya kembali seperti janji saya dulu”. Setelah cukup tenang, Arunika melepaskan pelukan dari Aditya. Dia menatap Aditya lalu berkata 

“ini bukan mimpi kan dit ? Kalau ini mimpi aku gamau bangun dari mimpi ini” 

“nope, ini bukan mimpi, Arunika. Ini nyata” jawabnya.



*3 bulan setelah pertemuan itu 

Tibalah hari itu, hari berbahagia dan terburuk dalam hidup Arunika dan Aditya. Mereka akan menikah.

“will you marry me?” ucap Aditya

“yes, i will” jawabnya.



*Cekrek

Seseorang memfoto pengantin baru itu, tebaklah siapa yang memfoto mereka ? Ya, kalian benar. Orang itu adalah aku, Arunika.



Setelah menunggu Aditya dengan waktu yang cukup lama, akhirnya Aditya kembali. Bukan kembali untukku ternyata, tapi kembali untuk melangsungkan pernikahannya disini, bersama gadis cantik nan beruntung itu.



• Terimakasih Aditya, terimakasih banyak karena telah singgah di hidupku, walau hanya sebentar. Aku bahagia, karena kamulah yang menjadi cinta pertamaku, walau pada akhirnya kau memilih untuk pergi.
Mentari & rembulan | Bagian 1

Mentari & rembulan | Bagian 1

  

  Pada hari itu aku terbangun di pagi yang dingin dan sunyi, lalu aku keluar kamar untuk melakukan hal yang seperti biasanya, Setelah itu aku bersiap untuk pergi menuju tempat yang penuh dengan tantangan baru, didalam perjalanan aku melihat dirimu yang ditutupi kabut pada pagi hari, aku berusaha ingin menyapa mu tapi aku tidak tahu namamu, seketika dengan keberanian diri aku mencoba mendekati mu.

    Ketika aku melihat dirimu dari dekat rupa mu bagaikan putri salju pada musim panas, dirimu yang terasa dingin tetapi menghangatkan seperti memakan es krim pada siang hari yang terik, aku bertanya kepada mu "siapakah namamu?" Lalu engkau menjawab dengan suara yang begitu lembut nan indah "nama saya adalah Aurora" dengan perasaan malu dia pun bertanya balik dengan suara yang kecil "lalu...nama..kamu.. siapa?" dengan senang hati aku pun menjawab dengan lantang "kalau nama ku adalah Adicandra senang berkenalan dengan mu" dia pun senang berkenalan dengan ku juga akan tetapi dia berbicara pelan seperti tadi.

    Sudah 1 Minggu berlalu ketika aku bertemu dirinya tetapi tidak ada hal apapun yang terjadi diantara kami, lalu aku berinisiatif untuk mengajak nya jalan-jalan sebagai teman ke perpustakaan nasional dengan senang hati dia menjawab "oke.. aku akan pergi denganmu pada hari Ahad siang hari"

    Aku pun senang kegiranagan ketika wanita yang aku ajak jalan-jalan ternyata menerimanya, ketika pada hari dan waktu yang dijanjikan aku pun pergi menemui dirinya dan benar saja dia sudah ada disana sebelum aku datang, aku melihat dia dari kejauhan dirinya seperti bunga yang indah diantara semak belukar yang tajam seperti perasaan ku saat ini.

    Ketika kami memasuki perpustakaan besar itu didalamnya penuh dengan buku-buku yang berisi tetapi tidak dilirik, dan aku hanya melihat beberapa orang menikmati perpustakaan itu untuk membaca sedangkan yang lain hanya melakukan kesibukan nya masing-masing untuk bersantai ditempat yang sepi nan nyaman,
 
   wanita itu seketika mengambil buku yang paling kumuh dan lesu pada rak yang paling bawah dan dia menunjukkan nya kepada ku dengan berkata "buku ini memang tidak nyaman untuk dipandang akan tetapi memiliki banyak kenangan".
   
 Setelah kami bersenang-senang didalam Milyaran ilmu itu dia pun mengajak aku untuk pergi ke restoran terdekat dari sini, aku pun hanya bisa menuruti apa yang ia katakan, ketika kami sampai direstoran itu aku merasakan aura yang sangat antik dan hangat tetapi tidak membosankan, wanita itu terlihat sangat menikmati makanan dan suasana didalam restoran itu mungkin inilah tempat makan yang ia sukai tetapi pendapat hatiku salah dengan pelan dia berkata kepadaku "dulu restoran ini menyajikan daging manusia untuk hidangan penutup" dengan perasaan takut dan mual aku tidak akan makan di restoran ini lagi.
 
   Setelah selesai makan kami pun pergi ke tempat peristirahatan kami masing-masing,
    
Sebelum itu dia mengatakan "selamat tinggal" kepadaku dan aku hanya bisa menjawabnya "selamat tinggal juga sampai besok" tetapi dia menjawabnya seakan-akan besok kita tidak akan bertemu kembali.
  
  Keesokan harinya aku terbangun di pagi hari pertama aku bertemu dengannya, dengan perasaan bingung dan takut seketika aku melihat kalender dan ternyata aku memang kembali kepada waktu aku bertemu dengan dia aku berpikir apakah aku bertemu dengan wanita itu hanya mimpi atau kenyataan, aku pun pergi ketempat aku bertemu dengan mu untuk memastikan bahwa ini adalah kenyataan, dan benar saja dirimu yang aku harapkan tidak ada disana dengan perasan kecewa aku pun melanjutkan perjalanan ke tempat seharusnya aku berada.
Cinta di ujung surga

Cinta di ujung surga

 

 





Namanya Danil ia baru duduk di bangku SMP kelas 7 saat ini, rambutnya yang bergelombang ke kiri dan badannya sedikit gemuk yang telihat seperti Boboho. Waktu memasuki hari pertama sekolah ia terlambat bersama temannya yaitu Adam (teman SD-nya), Danil bilang ke Adam “Santai aja Dam jalannya, buat apa sih tepat waktu ke sekolah? Sekolah itu tempatnya buat orang-orang santai dan juga kalau kita telat pasti masih dimaklumi” sambil merangkul Adam “Ohh begitu ya Nill ” dengan wajah yang takut.

Danil dan Adam pun telat di hari pertamanya, tak diduga mereka sebenarnya satu kelas yang sama dan akhirnya mereka pun duduk bersama. Danil bertanya kepada Adam “Dam lo nanti mau ikut ekskul apa?”Adam menjawab “Kalo gw maunya Sastra pengen kayak ayah gw waktu SMP, tapi ngga ada temen, lo mau kan Nil temenin gw ekskul Sastra sekalian nyari pengalaman pleasee !” dengan muka sinisnya Danil “Dihh apaaan? Sastra? Ga terkenal banget mending lo ikut ekskul basket aja bareng gw, disana pasti banyak orang yang populer dan cewek cantik seru deh nanti bisa diisengin” “Hmm, oke deh” Adam dengan pasrahnya.

Keesokan harinya pada waktu istirahat Danil melihat seorang wanita sendirian membawa mukena(pakaian untuk salat wanita) yang menuju ke Masjid untuk salat, terlintas oleh hati Danil “padahal dia kan perempuan tapi rajin banget untuk salatnya, salat sunah pula” Danil pun sedikit tergerak untuk lebih rajin beribadah karena di dalam lubuk hati nya yang paling dalam ia ingin sekali mendoakan kedua orangtuanya masuk surga bersamanya kelak. Seiring berjalannya hari Danil selalu melihat aktivitas si wanita tersebut di sekolah,  ia penasaran betapa sholehahnya wanita tersebut dan pada akhirnya ada sedikit rasa yang belum pernah Danil rasakan.

Ketika di dalam kelas yang ramai“Nil nanti kan kita disuruh untuk membuat kelompok mata pelajaran IPA, kira-kira siapa aja ya?” “Ngga tau nih Dam, ga penting juga kayaknya” Adam kebingungan bahwa guru IPA mereka menyuruh membuat kelompok untuk tugas, tapi tiba-tiba mereka berdua ditawari oleh kelompok perempuan yang dimana kelompok itu ada wanita yang Danil suka, betapa senang dan pipi merah jambunya si Danil menjawab “iya”.

 

Seminggu kemudian kelompok Danil dan Adam disuruh untuk mengamati tanaman yang ada di halaman sekolah, Danil pun berlagak bego untuk berkenalan lebih kepada wanita tersebut dengan wajah yang pucat dan pemalunya, Danil takut kalau wanita tersebut cuek dan judes, setelah memberanikan dirinya ia pun berkenalan dengan wanita tersebut “Nama kamu Amalia ya? Kamu jago matematika itu kan yang dapet nilai 100 pas UH 1? ” berdiri di samping Amalia sambil menatap tanaman “ Iya, hehe itukan karena aku belajar kamu juga bisa kok, tanpa belajar juga bisa asal tau kunci jawaban dari gurunya hehe” sambil melihat ke arah Danil “Yee bisa aje” dengan tersenyum   “Kamu yang pertama masuk Sekolah telat kan? Jangan diulangin lagi yaa!”  mereka berdua pun saling tertawa dan mengerjakan tugas yang disuruh, ternyata apa yang Danil pikirkan tidak sebenarnya ia rasakan.

 

Hari demi hari bulan demi bulan mulai berlalu, Danil pun mulai merasakan adanya cinta. Saat bersama terasa sesak, detakan jantung yang tidak bisa dusta, mata yang coklat mulai pancarkan sinarnya, ada hasrat yang terlara.“ Tuhan tolong jelaskan perasaan ini, batinku tersiksa mengapa tidak bisa menyatakan perasaan ini ke dia?” Danil dalam doanya.

  

Disuatu hari Danil melihat Amalia di kantin dengan seorang pria adanya canda dan tawa terlintas kemesraan disana, Danil pun merasa iri, menyesal, dan merasa bahwa pria tersebut lebih pantas mendapatkan Amalia. Danil pun lekas ke kelas dan merenung bahwa dia tidak bisa melihat mereka berdua, ketika Danil merenung ia mendengar dari teman-teman nya bahwa Amalia dan pria itu sudah terikat cinta.

 

Sakit tidak berdarah, itulah apa yang Danil rasakan saat ini. Hari yang temaram terasa diremukkan hati ini seketika ia tidak mau lagi bersekolah, terbenak oleh Danil ingin meninggalkan hidup ini. Selekas pulang sekolah ia terasa lesu,  murung, tidak ada satu pun teman di sisinya, dan selalu mendengar musik agar hatinya terhibur hal tersebut membuat dirinya tidak tau lagi apa yang harus dia lakukan.

 

Bulan yang bersinar tepatnya bumi mau berevolusi, Danil dan teman tetangganya yang laki-laki membuat pesta di rumah teman masa kecilnya yaitu Ray. Beberapa jam kemudian sebelum waktu itu tiba mereka semua ada yang bermain judi dan ada yang menonton TV saja sambil makan-makan, Danil hanya duduk melamun saja. Momen tersebut tinggal beberapa detik lagi, kami semua menunggunya sambil berhitung mundur “3,2,1 selamat tahun baru !!” Danil dan teman-temannya langsung mengucapkan selamat.

 

 

 

Waktu sudah larut malam teman-teman mulai beranjak pulang, orang tua Ray pun baru pulang pada malam itu. Danil mendengar Ray mengucapkan selamat sekaligus meminta maaf pada tahun lalu kepada orangtuanya dan orangtuanya berdoa agar Ray menjadi anak yang baik dan membahagiakan orang tua, terlintas di pikiran Danil “ halahh nanti dia juga berbuat hal yang membuat orang tuanya menangis lagi”, Danil ingin sekali membahagiakan orang tuanya. Danil berpikir apa yang bisa membahagiakan orang tuanya, tiba-tiba Danil teringat  salat iya salat 5 waktu di Masjid, Danil ingin sekali kedua orang tuanya masuk surga bersamanya dengan salat dan berdoa kepada tuhannya. Setibanya di rumah waktu menunjukkan pukul 03.00 pagi, Danil berniat untuk salat subuh di Masjid sampai-sampai dia mandi untuk menyegarkan badannya, karena terasa kaku dan mengantuk Danil pun berniat tidur sebentar untuk memulihkan tenaganya, tapi ternyata Danil kebablasan waktu menunjukkan pukul 08.00 pagi. Danil merasa menyesal karena tidak salat subuh tetapi dia akan konsisten dengan niatnya ini.

 

Bulan demi bulan Danil hanya termenung dan gundah gulana, begitu susah nya Danil move on dari perasaan ini. Waktu begitu cepat Danil pun naik ke kelas 8 dengan kesakitan batin ini, Danil tau dia tidak boleh seperti ini terus-menerus dan pada akhirnya dia mulai mendengarkan ceramah Islam yang membuat dirinya tenang dan mulai menjauh dengan perasaan yang dia rasakan.

 

Danil berpisah dengan teman sebangkunya karena kelas 8 mulai ada pemindahan secara acak di setiap kelas. Danil pun ramah dengan teman-teman barunya di kelas 8, malah makin lama makin semangat iya dalam mempelajari agama dan merasakan kedamaian hati seluas samudera, hari ke hari mulai hilang perasaan sakit hati ini. Sampai pada akhirnya Danil belajar dengan rajin untuk menggapai peringkat 1 di kelasnya.

 

Alhasil pada pembagian rapor semester 1 dan 2 Danil mendapat peringkat 4 dan 1. Begitu bangga nya Danil bisa menyenyumi kedua orangtuanya, Danil terus berdoa dan salat di Masjid tepat waktu, dia konsisten ingin lebih baik dari sebelumnya. Sewaktu pada akhirnya dia naik ke kelas 9 dengan penuh semangat dan gembira.

 

Danil duduk bersebelahan dengan teman barunya yaitu Hugo, tidak disangka Hugo merupakan peringkat 1 seangkatan dan Danil yang ke-2. Danil merasa Hugo  adalah teman terbaik yang ia temui, Danil selalu tertarik dengan apa yang diceritakan Hugo tentang kehidupannya, mereka berdua saling bertukar cerita. Pada saat mereka sibuk cerita ada seorang perempuan yang datang menghampiri tempat duduk Danil dan Hugo sambil menyapa Hugo “Hai Hugoo!”sambil melambai tangan, ternyata perempuan itu adalah teman Hugo waktu kelas 8 yaitu Angel sekarang sekelas lagi dengan Hugo, seketika itu Danil seperti iman nya tergoyahkan dengan kecantikan Angel.

 

Pada waktu pulang sekolah tepatnya di koridor sekolah Danil langsung bilang kepada Hugo, Danil “Go itu temen lu? Yang dateng terus nyapa lu?”Hugo “Iya, emang kenapa? lu suka yaaa!?” sambil tersenyum dan menggangu Hugo “Ahh ngga nanya doang ” tersipu malu. Setelah mereka berbincang Danil merasa asmara-asmara cintanya mulai bergejolak kembali, tetapi Danil tahu Angel bukanlah perempuan yang dia inginkan walaupun cantik namun kewajiban terhadap agama Islam ia kurang, rambutnya yang terurai membuat Danil mulai meredup kembali dalam cintanya.

 

Mentari mulai nampakkan cahayanya Danil pun berangkat ke sekolah, sesampainya di kelas ia melihat Angel dan teman perempuannya berada di tempat duduk  Hugo yang sedang mempelajari Matematika. Danil langsung menaruh tasnya di bangku dan ikut dalam pembicaraan mereka, disitu mereka kebingungan dalam mempelajarinya namun Danil mengetahui dan mengajarkan teman-temannya itu. Danil sedikit teringat dengan Amalia yang pintar sekali dengan pelajaran ini.

 

Waktu bel istirahat Danil pun ke kantin, dan memikirkan perempuan yang ada di sebelah Angel pada pagi tadi “siapa yaa yang ada di sebelah Angel itu?”. Tiba-tiba Danil melihat perempuan tersebut melintas di depan Danil dan menyapanya dengan senyuman hangat, dengan senyuman lesung pipitnya yang manis tersebut Danil semakin penasaran dengan wanita itu.

 

Hari demi hari Danil baru tersadar perempuan tersebut selalu salat 5 waktu dan sunahnya juga ia kerjakan, pada akhirnya Danil bertanya dengan Angel siapa perempuan tersebut.

Danil dengan canggungnya“Ngel yang duduk di sebelah lo itu siapa?” Angel “Ohh dia itu temen gw waktu masih kecil namanya Rahma, jangan harap dehh lo sama dia soalnya dia udah di incer sama seseorang” sambil meyakinkan Danil.

 

Waktu demi waktu Danil selalu menggalau, hingga ada satu kejadian yang membuat Danil tidak bisa ia lupakan pada saat pulang sekolah, Danil melihat Rahma sedang ingin pulang ke rumah yang kebetulan searah dengan Danil tiba-tiba ada 3 orang siswa sekolah lain yang menggangu Rahma, Danil sontak menghampiri Rahma yang sedang di ganggu, pada saat Danil datang ia langsung melindungi Rahma di balik badannya, 3 siswa itu berkata”Woy emang lo siapanya dia? Sok-sok ngelindungin mau ribut kita?”Rahma “Udah Nil kita pergi aja, jangan di ladenin” Danil dengan kaki yang bergetar hebat “Gua pacarnya dia, kenapa lo ayo sini !!! (sambil membuka baju sekolah)” terlihat tubuh Danil memakai kaos putih yang kekar dan tidak sia-sia ia ikut ekskul basket, melihat keadaan itu 3 siswa langsung mundur pelan-pelan dan lari. Rahma pun berterimakasih serta kaget ketika Danil bilang seperti itu dan Danil menghantarkan pulang Rahma. Sejak kejadian itu Danil menaruh hati kepada Rahma.

 

Libur semester telah tiba, Angel berencana akan mengajak Hugo, Rahma, dan Danil untuk pergi ke mal menghabiskan waktu luang, mereka akan pergi ke mal yang sudah di sepakati. Setibanya di mal mereka tidak langsung main tetapi pergi ke restoran dulu untuk makan, ketika di restoran Danil kaget karena tidak ada sendok ataupun garpu yang ada hanyalah sumpit besi, disitu Danil kesusahan untuk makan tapi tetap berusaha, ketika Danil sedang berusaha ada sumpit yang datang ke bibir Danil yang dimana sumpit itu berasal dari tangan Angel “nihh!” Danil sambil berusaha makan “gw bisa kok pakai sumpit” Angel “cepett pegel nihh!!” sontak Danil langsung memakannya, suasana disana langsung terasa canggung Hugo dan Rahma hanya tersenyum.

 

Libur semester telah habis dan kembali untuk bersekolah, saat jam pelajaran guru yang sedang mengajar sedang tidak masuk, waktu itu Angel membuat sebuah permainan untuk mengisi waktu kosong tersebut yaitu bila kita kalah kita harus jujur siapa yang kita sukai saat ini, akhirnya 1 kelas ikut untuk meramaikannya dan tidak disangka yang kalah dalam permainan itu adalah Rahma, Rahma harus jujur dalam kekalahannya ini dan teman-teman satu kelas meneriaki Ridwan yaitu teman sekelasnya saat ini, Ridwan memang mulai mendekati Rahma pada saat kelas 8 pantas teman 1 kelas mengait-ngaitkankannya dengan ini. Rahma akhirnya tidak menjawab atas kekalahannya itu karena malu, Angel “ maaf Ma, gw harus ngemainin permainan ini (suara hatinya)”.

 

Pada saat itu Danil merasa risih Rahma dimakcomblangkan seperti itu, walaupun itu hanya candaan untuk menghibur. Makin hari makin jadi saja menjodoh-jodohkan mereka berdua, Danil mulai patah hati dengan ini ditambah lagi Rahma yang sedikit tertarik dengan Ridwan.

Danil seperti mengulang patah hatinya waktu itu, makin hari makin lesu saja muka Danil dan ia tidak tau harus apa ia lakukan. “Woy!! Bengong aja, kenapa sih kok muka asem banget?” Angel yang mengagetkan Hugo di pelataran kelas “ Itu gw dicuekin mulu sama Danil, gw bilang kenapa dia malah bilang gapapa mulu” dengan wajah yang cemberut “Biar gw yang ngomong” sambil berjalan ke bangku Danil.

 

“ Sini ikut gw! Ngeselin muka lo !” menarik dasi Danil “Ehh dasi gw, mau dibawa kemana gw?” “ Ke belakang Sekolah, udah ikut aja jangan banyak tanya” dengan wajah seriusnya. “Liat tuh ada sepasang angsa yang selalu bersama, angsa adalah hewan yang setia kepada satu pasangannya sampai tua nanti” “Terus?” dengan muka polosnya “Ihh sok polos banget sih lo, lo sebenarnya suka kan sama Rahma” “Ehh apaan?” dengan muka yang panik “ Udah deh jangan bohong keliatan dari muka lo, kalo itu ngebuat lo seneng sana cepet pacarin, gw juga sebagai temen deketnya ngedukung kok” sambil tersenyum “Kok lo tau sih? sebelumnya makasih Ngel udah didukung”. Teng.. teng.. teng.. “ Wah udah bel ayo Ngel kita ke kelas” “Lo duluan aja gw mau disini sebentar sambil ngeliat angsa itu” menahan air mata keluar “Oke, gw duluan yaa” Ketika Danil balik badan dan pergi Angel mulai menjatuhkan air matanya.

 

Bulan demi bulan berlalu hingga semester 2 mendekati UN, Danil tahu Rahma dan Ridwan sudah tidak lagi dijodoh-jodohkan. Pada malam hari Danil memberanikan diri untuk melampiaskan perasaannya kepada Rahma, melalui HP-nya yang jadul dia memulai obrolan dengan Rahma ”Rahma sebenernye gw suka sama lo dari pas kita ketemu, lo mau ga jadi pacar gw? Yang tau ini gw sama lo aja” Tangan yang keringat dingin “lo bercanda ya Nil?” Danil “seriusan” “bohong ah males gw Nil” Danil “serius gw ngga tipu-tipu” Rahma “gw bingung Nil jawabnya soalnya sebentar lagi kan UN gw mau fokus belajar dulu” Danil “iya juga si, ya udah deh sehabis UN” detak jantung yang mulai tenang.

 

Setelah selesai UN Danil berharap jawabannya di pending terlebih dahulu karena ia tau dua minggu lagi mau memasuki bulan Ramadhan, Danil tidak mau berpacaran karena takut ibadah puasanya terganggu. Hari demi hari dia lalui dengan damai, terlebih lagi ia baru memasuki SMAN yang Danil inginkan selama ia berdoa kepada tuhannya.

 

Selama di SMA Danil belajar agama Islam bersama gurunya, Danil tahu bahwa pacaran itu tidak boleh selebih lagi Danil mengetahui dan mempelajari apa isi kandungan Al-Isra ayat 32 itu. Hati nya gelisah karena berpacaran itu membuat dosa yang terus mengalir selama pacaran, pada saat itu Danil masuk organisasi Rohis yang disana banyak teman yang baik, lebih mengerti tentang agama,dan setia kawan. Danil meninggalkan dunia basket karena ia tahu Danil belum banyak ilmunya tentang agama.

 

Hari demi hari minggu demi minggu jawaban Rahma belum juga terbalas, pada akhirnya di suatu malam Danil melihat Rahma dan seorang pria sedang berfoto ria dengan gembira di media sosial, Danil mengeluarkan air mata bahwa dirinya tidak mengeluh, tersakiti, ataupun galau justru Danil bersyukur sekali  kepada Allah SWT. Danil membayangkan bila mana pria di samping Rahma itu adalah dia berapa banyak dosa yang ia tanggung kelak, Danil akhirnya mengetahui yang mencintainya dengan tulus adalah Allah SWT, Dia yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang maha mengetahui isi hati manusia, dan tidak mau hambanya terjatuh dalam dosa.

 

Danil akhirnya mengetahui kelemahan imannya yaitu dikarenakan wanita yang bukan mahramnnya, pada malam itu juga Danil bersumpah dengan keteguhan hatinya”Demi Allah yaa Allah saya tidak mau ber pacaran karena saya takut berdosa”, pada saat itu Danil pun merasakan kelegaan di hatinya. Danil tau ini awal dari perubahannya untuk menjadi lebih baik bersama teman-teman barunya yang selalu membantunya untuk istiqomah di jalan yang benar, ia juga tidak lupa dengan kedua orang tuanya yang ingin sekali memasukinya ke dalam surga bersamanya.

 

Ray “Nil udah dua minggu pas MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) nihh cari pacar kuy, sebelum tugas banyak gw mau genre SMA nanti romance bukan romusha” membujuk Danil “Ga mau ahh” dengan wajah yang cuek, “Emang lo mau cewek yang kayak gimana? Muka lo kan ganteng pasti gampang” “Cantik dan sholehah” dengan tersenyum

“Wahh banyak tuh diangkatan kita”. “Emangnya ada wanita cantik dan sholehah terus pacaran?” Ketika itu ada wanita yang menyapa Danil dan menghampirinya “Danill !!” “Nil gw duluan ya ke kelas hehe” Ray yang tau akan kondisi ini, “Wehh tunggu” “Lo siapa dah?” dengan wajah yang sinisnya “Ini gw Angel, ternyata kita satu sekolah lagi hehe” “Oalahh, lo pake kerudung sekarang pantes ga kenal” “Iyaa, ohh iya gw turut perihatin si..”

Danil langsung memotong pembicaraan Angel “Udah jangan dibahas, ohh iya gw ngga mau ngobrol panjang lebar sama lo lagi 12 tahun kedepan, kalo lo bener-bener berubah dan istiqomah gw akan kerumah lo” Danil yang langsung jalan cepat kekelasnya “Ehhh, maksudnya apa? Mau ngapainn? Woyy tunggu..”

 

Danil tahu bahwa ini langkah awal dari hidupnya yang banyak cobaan, setiap waktu cobaan yang diterima akan lebih berat dari sebelumnya. Danil berdoa agar tetap istiqomah untuk di jalan yang benar dan selalu ingin membahagiakan orang tuanya di dunia maupun di akhirat.

 

 

 

Rumah

Rumah


Suatu hari ada seorang gadis yang lelah karna ia selalu menjadi "rumah" untuk orang orang yang dia kenal, Bahkan dia selalu menerapkan dalam dirinya untuk menjadi rumah untuk setiap orang yang ia kenal, Tapi dia lupa dia bukanlah rumah, Dia manusia, Dia juga bisa lelah, Dia bahkan bisa merasakan "di mana rumahku sekarang?" Dia lupa bahwa dia juga membutuhkan rumah, Dia berjalan ke hutan yang sepi, dia tersesat. Dia melewati banyak rintangan.

Dan dia menemukan seseorang di dalam hutan, Sang gadis berkata "hai, sedang apa kau di hutan seperti ini?" Seseorang itu mengatakan dengan suara yang bergetar.. Dia berkata, "Maukah kau menjadi rumahku? Mendengarkan aku bercerita, membuatku tertawa setiap hari, menemaniku sepanjang hari. Aku membutuhkanmu, Aku sendirian di sini" Gadis itu tersenyum dan mengatakan sesuatu yang tidak di sangka... Dia mengulurkan tangannya "ayo ikut aku.. Aku akan menjadi rumahmu mulai sekarang. Aku juga tersesat dan kesepian di sini, aku tidak tau jalan pulang, aku akan menjadikan kamu tamu yang menetap selamanya di rumahku" Gadis itu pun membawa pria tersebut duduk di bawah pohon yang cukup besar.. Akar pohon itu bahkan bisa di jadikan rumah untuk mreka berdua tinggal.. Meski tidak terlalu luas tapi mreka berdua berusaha membangun rumah kecil, menutupi akar agar tidak terkena hujan.. Mreka menutupi akar menggunakan tanah liat yang ada di dekat pohon itu.. Sembari membangun pohon itu pria tersebut mengatakan. 

"Aku mencintaimu sedari kau datang ke hutan ini. Aku melihatmu tersesat dari tadi. Lalu aku tau kau adalah orang yang tepat untukku, maka aku akan datang ke dirimu dan kau adalah rumahku, obat untuk lukaku, kau adalah pahlawan yang menyelamatkan hatiku yang sedang terluka"... 

Gadis itu hanya senyum, Gadis itu tampak lelah.. Dalam hatinya berkata "hai pria tamu, aku lelah menjadi rumah untuk semua orang.. Tapi.. Aku menemukanmu untuk menjadikanmu kuat seperti sedia kala.. Aku bersedia untuk menjadi rumahmu... Tapi suatu hari nanti kau harus tau sendiri tanpa ku beri tau bahwa aku sangat lelah.. Aku ingin menjadi tamu yang tinggal selamanya di rumah yang indah, rumah yang selalu tersenyum dan memberikan ku kehangatan.. Tapi aku tidak akan mencari itu karna mungkin inilah takdir ku" Gadis itu meneteskan air mata dan ia memeluk erat pohon besar itu. Lalu tamu itu berkata "Ada apa denganmu? Ceritalah padaku, mungkin Aku juga bisa menjadi rumahmu" Kemudian gadis itu melepaskan pelukannya dari pohon itu dan menghapus air matanya. Dia berkata kepada tamu itu "tidak ada yang salah kok. Aku hanya senang kita bisa tinggal di rumah pohon yang hangat ini" Sambil tersenyum dia memikirkan bahwa dia tidak perlu bercerita masalah apapun karena dia tahu mungkin tamu itu akan ikut sedih dan tambah sedih. Atau mungkin saja tamu itu memiliki masalah yang lebih besar dari dirinya sehingga ia harus sendiri di hutan blantara yang sepi itu, Hari mulai gelap sang gadis dan tamu itu masuk ke dalam rumah pohon itu dan menyalakan api unggun.. Pria tamu berkata dengan lembut "terimakasih. Kau adalah orang terbaik di hutan ini" Lalu gadis itu menjawab dengan suara yang lembut juga "percayalah suatu hari nanti aku akan membawamu keluar dari hutan ini dan menemukan orang yang lebih baik dariku" Ucapnya dengan bibir bergetar dada yang sesak dan suara yang pelan dan halus. Lalu pria itu tersenyum dan menjawab "untuk saat ini hanya kaulah orang yang paling baik" Tidak lama kemudian mereka tertidur... Besoknya mereka berdua pergi ke sungai dan mencari ikan untuk di makan bersama. Sesampainya di rumah dan tak di sangka ternyata rumah mereka berantakan karna ada dua ekor kera yang membuat rumah mereka berantakan, Mereka berdua mengusir kera itu dan segera membersihkan rumah mereka, Gadis itu berkata "rumah ini pasti kesakitan dan kesepian karna kita tinggal dan bisa saja lama lama dia lelah menjadi rumah untuk kita, Tapi tidak jika kita juga menjadikan diri kita sendiri rumah dan bukan untuk rumah kita, Jadi, Rumah di balas rumah" Tersenyum dengan mata yang sipit, gigi yang indah, tamu itu berkata "ada apa denganmu?" Lalu gadis itu menangis dan ia mengajak pria itu duduk "Aku ingin menceritakan sesuatu padamu" Pria itu mengikuti sang gadis dan duduk di sampingnya, gadis itu pun mulai bercerita "Dulu sebelum aku lelah dan tersesat di hutan ini aku menjadi rumah untuk mereka yang aku kenal, Aku menerapkan dalam diriku sendiri untuk membuat orang-orang bahagia dan mendengarkan keluh kesah mereka dengan segenap hatiku dan membantu menyelesaikan masalah mereka, Lalu setelah bertahun tahun aku mulai tersadar, Aku sadar aku hanyalah manusia, aku memiliki hati dan diri sendiri yang harus ku urus, Aku terlalu perduli dengan orang lain. Tapi aku tidak akan berhenti dengan itu semua, Aku hanya berharap ada rumah lain yang menjadikanku tamunya seperti aku menjadikanmu tamu selamanya di hidupku atau aku adalah rumahmu, Ketika bertemu denganmu di hutan ini aku berfikir kau adalah rumah untuk ku dan aku berharap rumah itu berkata "ayolah singgah di sini dan menjadi rumah kedua. Aku rumah pertama dan kau adalah rumah kedua, Yang menetap dan menjadi tamu di rumah kita adalah buih buih kehidupan kita berdua. Jadi, maukah kau menjadi rumah kedua untukku? Aku berharap kau mengatakan itu dan aku akan membangun rumah di hatimu dan hatimu adalah kehangatan, udara, kehidupan, rumah, dan segalanya di hatiku, Wahai tamu. Maaf, Aku mengatakan hal ini. Tapi aku datang ke hutan ini.. Aku tersesat aku ingin rumah pertamaku. Aku ingin seperti mereka yang menemukan pelukan hangat dari hati orang lain. Bagaimana jika kita saling melupakan dan aku akan membawamu keluar dari hutan ini untuk menemukan orang lain yang lebih tepat untukmu karna jika kau menjadi rumah pertamaku kau tidak akan sanggup karna aku tahu mungkin saja masalahmu sudah banyak dan lebih besar dari masalahku. Tidak mungkin kau menanggung rumahku kan? Maka aku akan membawamu ke hati orang lain" Pria itu menangis dan menjerit "Pilihan terbaik adalah kita sama sama menjadi rumah dan jika kita bersama tanpa memikirkan masalah yang kita lalui sekarang aku hanya bisa mengikhlaskan semua masalah ku dan ayolah kita menjadi dua rumah yang indah.. Aku yakin dengan kita berdua bisa terus bersama dan hari-hari kita bisa menyembuhkan hati kita. Wahai gadis, aku minta maaf karna datang begitu saja tanpa bertanya kenapa kamu bisa ke hutan ini, Maaf" Gadis itu memeluk pria tamu dengan erat lalu berkata "ya! Kita akan menjadi dua rumah yang indah dan tamu kita adalah hari hari kita yang menyenangkan. Aku, kamu, kita.. Akan bahagia bukan?" Pria tamu itu berkata "iya!! Pasti!!" Mereka berdua mencari jalan keluar dari hutan bersamaan, Mereka berdua selalu tersenyum walau lelah, Mereka selalu bergandeng tangan hingga mereka menemukan kota yang indah. Di sanalah mereka membangun dua rumah bersamaan. Kehidupan mreka mulai hangat dan mereka bahagia tanpa memikirkan masa lalu, rumah tersebut semakin lengkap karena kehidupan yang indah bertamu ke dalam kedua rumah itu. Gadis rumah berkata "hai pria tamu... Senang bisa bertetanggaan dan hidup bersama denganmu di kota yang indah ini" Lalu pria tamu berkata "wahai gadis rumah, Kini namamu adalah rumah dua dan namaku adalah rumah satu. Mari kita menggabungkan rumah kita menjadi rumah tingkat. Maka kita akan lebih dekat" Rumah 2 menjawab "jadi kita harus membangun lagi?" Lalu rumah 1atau pria tamu menjawab "Ayolah membangun dari awal, Jika rumah awal kita di bangun dengan kesadaran, maka rumah yang kita ubah untuk lebih baik sekarang di perbaiki karena kebahagiaan yang telah kita temukan."


The Girls Who Traumatized Me Are Glancing at Me, but I’m Afraid It’s Too Late - prolog (Bahasa Indonesia)

The Girls Who Traumatized Me Are Glancing at Me, but I’m Afraid It’s Too Late - prolog (Bahasa Indonesia)




"Aku sudah memutuskan untuk pergi keluar dengan senpai."
 
Ketika kata-kata itu diucapkan oleh teman masa kecilku, Aku menyadari bahwa itu semua hanyalah kesalahpahaman diriku. 

Hinagi Suzurikawa - Kami sudah dekat sejak taman kanak-kanak, dan kami sudah saling kenal sejak kecil. 

Aku tidak tahu mengapa dia merasa perlu memberi tahuku tentang itu, mungkin dia pikir itu adalah tugasnya sebagai teman masa kecilku. Aku tidak bisa membaca pikiran orang. 
Segera setelah itu, kata-katanya menjadi lebih keras dari biasanya. 

Aku tidak ingat apakah kami berjanji untuk menikah satu sama lain atau tidak, seperti yang sering terjadi dengan kebanyakan teman-teman masa kecil. Tapi dia selalu istimewa bagiku. Dialah alasan mengapa aku bisa melewati masa-masa sulit dalam hidupku. 

baru-baru ini, kami menjadi lebih sering berdebat, meskipun begitu, kami tetap akrab. Ketika kami mulai menginjak sekolah menengah, Suzurikawa menjadi semakin cantik. Dia menghabiskan lebih banyak waktu untuk pakaiannya, dan dengan kepribadiannya yang suka bersosialisasi dan ceria, tidak heran kalau dia menjadi begitu populer. 

Ketika Aku melihatnya menaiki tangga sosial, Aku memutuskan untuk mengambil langkah berikutnya dalam hubungan kami, tahun ini - di sekolah menengah tahun kedua kami. Aku berencana untuk mengakui perasaanku kepadanya di festival musim panas yang selalu kami datangi bersama setiap tahun. 

Aku dengan bodohnya berada di bawah ilusi bahwa dia akan menerima pengakuanku. Namun, pandangan yang naif seperti itu seketika hancur. 
Aku telah keliru berpikir bahwa perasaan yang dia tunjukkan kepadaku adalah perasaan cinta. 

Oh, itu bukan cinta sama sekali, kan? Sesuatu hancur di dalam diriku, dan bayangan gelap mulai muncul di dalam hatiku.

Baginya, itu bukanlah cinta, itu hanyalah kesadaran bahwa Aku adalah seorang teman masa kecilnya.

"Aku ingin tahu apakah itu akhir dari persahabatan kita. Kita mungkin tidak akan bisa bertemu sebanyak biasanya di musim panas ini."

" Oh ya, selamat."
 
Aku kesal dengan betapa kejamnya teman masa kecilku berbicara seperti itu dengan hatiku yang baru saja hancur. 

Aku kesal dengan itu. Saat dia punya pacar, dia tentu tidak akan bisa bersamaku. Aku tidak tahu harus berkata apa kepadanya, tetapi Aku tidak bisa memikirkan apa pun, pikiranku kosong. 

Apa yang keluar dari mulutku adalah berkah yang jujur. Wajah Suzurikawa sejenak ternoda oleh amarah.

"Aku tidak yakin harus berkata apa. Aku hanya senang dia menyatakan perasaannya kepadaku, tidak seperti kau, dia dapat diandalkan dan tampan." 

Orang yang suzurikawa sebut senpai adalah anggota klub sepak bola tahun ketiga yang telah menyatakan perasaannya pada suzurikawa seminggu yang lalu.Tidak sepertiku, Suzurikawa sangat populer. Banyak orang telah menyatakan perasaan mereka padanya, tetapi dia tidak pernah menerima perasaan itu sampai sekarang. Kurasa aku lega melihatnya seperti itu. Aku tenggelam dalam ilusi yang nyaman bahwa dia akan terus berada di sisiku. 

 Tetapi Aku sama sekali tidak berpikir bahwa ia akan mengungkapkan perasaan bencinya kepadaku dan membandingkan senpai itu dengan diriku. Aku tidak tahu pasti kapan dia menjadi sangat membenciku, walau aku tahu kalau aku tidak cukup baik untuknya. Aku mungkin hanya menjadi orang yang menjijikkan yang hanya duduk di posisi sebagai teman masa kecil. 

Aku sangat bersemangat untuk mengakui perasaanku. Emosi yang telah ku pegang terlalu banyak untuk ditangani, dan aku menghabiskan hari-hariku dengan merasa lelah. Aku merasa lega dan kecewa ketika aku telah menyadari bahwa hari ini adalah akhir dari semuanya. 

Ini adalah keputusannya. Jika perasaanku tidak terjangkau, mungkin ide yang baik untuk akhirnya memberitahunya. 

"Suzurikawa, aku akan mengakui perasaanku padamu pada hari festival musim panas tahun ini." 

"............ Eh?" 

"Aku selalu mencintaimu. Namun aku hanya bisa melihatmu. Aku bangga dengan cara mu menjadi semakin cantik, jadi aku ingin mengaku kepadamu tahun ini. Aku tidak tahu apakah sudah terlambat atau apakah kau tidak peduli denganku sejak awal." 

"Kamu berbohong ............. bukankah kamu ......? Lalu apa yang aku telah lakukan untuk ......"

 "Saya pikir perasaan yang kamu tunjukkan kepadaku adalah cinta. Saya pikir itu adalah cinta di antara kita. Aku idiot. Tidak seharusnya aku berpikir seperti itu. Kamu tidak pernah memikirkanku, kan?"
 
"Tidak, kamu salah! Aku juga–" 

"Ya, perasaan kita berbeda sejak awal."  
Aku tidak ingat kapan perbedaan kami mulai berbenturan, tetapi sudah tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang. 
 
"Apa yang .....telah aku lakukan ..." 

"Maaf. Jika ini akan menjadi akhir kita, saya hanya ingin memberi tahu Anda bagaimana perasaan saya." 

"Apa ...... Maksudmu dengan akhir? Aku tidak begitu paham apa yang kau coba katakan,......."

Untuk beberapa alasan, wajah Suzurikawa menjadi pucat. Dia seperti kehilangan semua kekuatannya. Aku tidak tahu mengapa.

"Selamat tinggal, Suzurikawa. Mari kita akhiri persahabatan masa kecil kita hari ini. Berbahagialah dengan senpai mu–" 

Sungguh ironis bahwa taman, yang dulu kami sering bermain disana, menjadi tempat sebuah tempat perpisahan. Jika saya mengatakan kepadanya bagaimana perasaanku tentang dia, tidak mungkin bagi kami untuk tetap menjadi teman masa kecil dan berperilaku seperti di masa lalu. Meski begitu, Aku telah merencanakan untuk mengakui perasaanku dengan tekad itu.Tapi aku tidak perlu melakukan itu lagi. 

Aku tidak ingin berada di sana lagi. Aku tidak ingin melihat wajahnya, atau wajahku sendiri. Aku mulai berlari menuju rumah. 
 
"Tunggu, tunggu! Yukito, tolong tunggu dan mari kita bicarakan ini —" 

Emosi manusia itu rumit. 

Jika perasaan yang ditunjukkan Suzurikawa kepadaku bukanlah "cinta" maka aku mungkin tidak akan pernah bisa memahami arti dari "cinta" dalam hidupku. 

Dengan demikian, laki-laki itu telah hancur untuk sekali lagi. 


Berakhir sudah | Part 1

Berakhir sudah | Part 1


 


 

 


Pagi yang cerah, sangat bagus untuk mengawali hari. Langit yang biru, udara yang segar, kiacauan merdu para burung dan aspal jalanan yang masih basah karena hujan semalam sepertinya akan menjadi teman diperjalananku untuk sementara.
    

Hari ini adalah hari pertama pergi ke sekolah setelah hampir 2 tahun tidak pernah melihat sekolah lagi karena pandemi yang melanda dunia. Rasanya sangat bersemangat bukan? Begitupun denganku, Sudah dari semalam aku menantikan momen ini. Dadaku berdebar kencang membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Dengan perasaan itu aku mengayuh sepedaku menelusuri jalan yang agaknya masih licin karena hujan pada malam hari.
    

Di tengah perjalanan itu aku berpapasan dengan seorang gadis berambut hitam panjang yang memakai seragam yang sama dengan yang aku kenakan. Wajahnya datar, tetapi jika kau melihatnya lebih lama kau akan tahu kalau dia sedang bersedih, berbeda sekali denganku yang sepertinya semua orang bisa tahu kalau aku sedang senang dengan hanya melihat wajahku sekilas. Menyadari hal itu, aku pun memperlambat ayuhan sepedaku dan mulai bertanya padanya. "Ada apa denganmu?" Ucapku untuk membuka percakapan. Awalnya ia seperti tidak ingin mengobrol denganku, tetapi setelah melihat wajahku dan seragam sekolah kita yang sama, ia mulai membuka suara "tidak apa, aku hanya masih bersedih karena nenekku meninggal kemarin" ungkapnya. "Aku turut berduka" kataku dengan nada pelan ikut bersimpati. Aku masih memperlambat ayuhan sepeda dan bertanya padanya "ingin kutemani sampai sekolah?" "Boleh saja, terimakasih" jawabnya "tidak usah kau pikirkan" kataku dengan tersenyum.
    

Sejujurnya dia sangat cantik kau tahu? Siapa yang tidak mau berangkat ke sekolah ditemani dengan wanita cantik?  Sekolah sudah dekat dia meminta izin padaku untuk pergi duluan. Dia tidak ingin ada rumor aneh tentang aku dan dia, akupun mengiyakan itu dengan perasaan agak berat. "Aku Arfan" Spontan aku berteriak seperti itu padanya sebelum ia berjalan agak jauh dariku "Aku clarissa, salam kenal" jawabnya singkat dengan wajah tersenyum.
.
.
.
.
Aaagh... Hidup begitu tidak adil bukan? Saat yang lain bisa Merasakan berbagai kesenangan, Aku hanya dapat merasakan sedikit dari kesenangan itu. Sungguh, hanya karena kedua orangtuaku lah aku masih bertahan sampai sekarang. Benar - benar nasib diriku, banyak harapan yang harus aku bawa dipunggung ku, semakin hari semakin banyak saja harapan itu. Aku lelah ayah, ibu. Tapi apalah daya, takdir tidak berpihak padaku. Aku hanya bisa menangis meratapi setiap nasib yang kulalui. begitulah kira-kira secercah gambaran bagaimana hidupku selama ini. Dan aku hanya bisa menuangkan ini dalam tulisan.
 

Kehidupan ku mulai berubah sejak kami bertemu. Aku yang biasanya lebih suka berdiam di rumah sekarang lebih suka keluar rumah dan bersosialisasi dengan orang lain. Sedikit demi sedikit diriku mulai berubah walaupun ada hal yang pasti tidak bisa untuk kau ubah.
.
.
.
.
 Sekolah telah usai, waktunya untuk pulang. Ini sudah bulan kedua sejak aku datang ke sekolah, ujian akhir semakin dekat dan aku sangat pusing memikirkan hal itu. Tapi aku sama sekali tidak belajar, aneh bukan? Aku sangat yakin dengan keburuntunganku.
 

Hari ini aku melihatnya berjalan sendiri saat pulang. Aku dengan semangat segera mendatangi nya. "Hai clar" sapaku, aku memang sudah lumayan akrab dengannya sekarang "arfan, kau belum pulang?" "Baru ingin pulang, aku melihat mu berjalan sendiri jadi aku mau menawari mu pulang bersama. Mau?" Tanyaku "kau tidak keberatan?" "Ya nggak lah, kalau aku keberatan aku tidak akan mengajakmu pulang bersama bukan? Haha" jawabku dengan sedikit tertawa "benar juga haha" dia pun tersenyum dan ikut tertawa kecil, senyumannya sangat mempesona. Aku selalu ingin melihatnya lagi dan lagi.
 

Di perjalanan tidak banyak yang kami bicarakan. Tapi aku merasa seperti ada benang yang menghubungkan kami, dan benang itu akan semakin dekat bahkan bisa juga semakin jauh seiring waktu berjalan.

Cerita Populer Minggu Ini