Kaulah Pahlawan Ku | Bagian 1
BAB I
Sudahi Tangismu
Setelah Andhin dan mamahnya di rawat beberapa hari, akhirnya mereka
berdua pulang ke rumah. Aku yang sedang bermain di teras rumah, terkejut melihat mamahnya Andhin menangis. Andhin dan
mamahnya segera masuk ke rumahnya. Beberapa jam berlalu ayah dan ibu ku
mengajak ku untuk ke rumah Andhin. Aku melihat jam menunjukan pukul 4 sore.
“Zar, kita ke rumah Andhin yuk. Kita jenguk dia sama mamah nya, sekalian
kita bawain kue ini buat nanti malam tahlilan.” Ku melihat ayah ku berpakaian
rapih sekali. Diapun menggendongku dan kami bertiga menuju ke rumah Andhin.
“Assalamu”alaikum Bu Marwah.” Ayah ku sambil mengetuk pintu rumahnya
Andhin.
“Wa’alaikumsalam, iya sebentar yaa.” Suara mamahnya Andhin terdengar
sampai kedepan rumah.
“Eh, ada Pak Anwar dan Bu Siti, eh De Zar juga ikut. Mari sini masuk,
maaf yaa rumah nya berantakan, belum sempat saya rapihkan.” Aku melihat dia
sedang membereskan karpet untuk kami duduk.
Aku melihat Andhin sedang duduk di depan tv sambil memainkan Hp di
tangannya. Akupun menghampiri Andhin dan mengajaknya bermain. Namun dia hanya
terdiam dan dia memanggil ayahnya berkali kali. Akhirnya aku kembali ke
pangkuan ibuku, tak lama mamahnya Andhin kembali ke ruang tamu.
“Pak, bu, Maafin suami saya bila ada salah ya, maafkan suami saya jika
selama hidupnya dia berbuat salah.” Ucap mamah Andhin sambil mengelap air mata
yang mengalir di pipinya dengan tisu.
Aku baru paham, jika ayahnya Andhin telah meninggal saat kecelakaan
beberapa pekan yang lalu. Pantas saja, yang biasanya aku melihat Andhin ceria,
kini tak seceria sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku pun kembali menghampiri
Andhin.
“Andhin,yang sabar yaa.” Ucap ku sambil memegang tangan Andhin.
“Sabar untuk apa?” Pertanyaan Andhin membuat ku bingung, aku melihat air
mata menetes di pipinya. Aku pun mengelap air mata tersebut dan memeluk Andhin.
Aku pun kembali ke ayah ku dan membisikkan “Ayah, kasihan Andhin. Apa
aku harus memberi tahunya?” Aku melihat ayah ku hanya terdiam lalu dia mengajak
ku keluar.
“Jangan sekarang, nak.” Seketika aku paham dengan semua yang terjadi dengan begitu cepat.
Ayah ku mengajak aku masuk lagi, aku terkejut saat aku melihat Andhin
yang berada di depan ku. Kemudian dia mengajak ku untuk menonton salah satu
video di Hp nya. Ku kira dia ingin menunjukan film kartun yang baru saja dia
tonton. ternyata aku salah. Vidio yang memperlihatkan prosesi pemakaman.
“Ini siapa Dhin?” Tanya ku sambil menunjuk ke bungkusan panjang berwarna
putih seperti sebutir nasi raksasa.
“Itu ayah aku.” Ucapnya sambil menahan tangis.
Aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Aku pun langsung memeluk Andhin
yang sedang menangis itu. “Udah eh nangisnya, jangan nangis lagi.” Aku berusaha
untuk menghibur Andhin agar tak menangis lagi.
Sepulang dari rumah Andhin, aku mengobrol kepada ayah dan ibu agar
mereka membantu Andhin. Ayah dan ibu setuju dengan usulan ku. Saat malam
harinya, aku tak sengaja menguping pembicaran kedua orang tua ku.
“Mas yakin mau bantu segala kebutuhan keluarga Almarhum Pak Sulaiman?”
Ibuku sambil membawakan air minum untuk ayah.
“Ya kenapa toh? Dulu kan kita juga dibantu sama keluarga Almarhum, anak
kita juga berteman dekat dengan anaknya. Apa salahnya jika sekarang kita yang
membantu?” Ayah ku menjawab tegas sambil membalikan halaman Koran yang sedang
dibacanya.
Ibu ku pun terdiam...
Esoknya, aku menghampiri rumah Andhin pada pukul 10 pagi.
“Asslamu’alaikum, Andhin!” teriak ku dari depan rumah nya.
“Wa’alaikumussalam, eh Zar ada apa?” Andhin keluar rumah nya dengan mata
sebam terlihat habis menangis dahsyat.
Aku pun memegang tangannya. “Yang sabar yaa, kamu kuat.” Ku peluk dia.
“Terimakasih ya Zar.” Aku melepaskan pelukan ku dan mengajaknya bermain
di taman. Namun ia menolak karena dia ingin membantu mamahnya untuk
mempersiapkan acarta tahlilan di malam harinya.
Aku pun pulang ke rumah dan memanggil ibu ku.
“Bu, Assalamu'alaikum. Bu, tadi katanya Andhin nanti malam mau ada
tahlilan di rumahnya aku liat tadi hanya Andhin dan mamah nya yang menyiapkan
untuk acara.” Ucap ku sambil mengambil air di atas meja.
“Iya nak, nanti ibu kesana.” Ucap ibuku dengan tenang.
Malam hari pun tiba dan acara tahlilan berjalan lancar, aman dan damai.
Kaulah, Pahlawanku. (Prolog)
Kamu, Matahariku.
Mentari & rembulan | Bagian 1
Cinta di ujung surga
Namanya Danil ia baru duduk di bangku SMP kelas 7 saat ini, rambutnya yang bergelombang ke kiri dan badannya sedikit gemuk yang telihat seperti Boboho. Waktu memasuki hari pertama sekolah ia terlambat bersama temannya yaitu Adam (teman SD-nya), Danil bilang ke Adam “Santai aja Dam jalannya, buat apa sih tepat waktu ke sekolah? Sekolah itu tempatnya buat orang-orang santai dan juga kalau kita telat pasti masih dimaklumi” sambil merangkul Adam “Ohh begitu ya Nill ” dengan wajah yang takut.
Danil dan Adam pun telat
di hari pertamanya, tak diduga mereka sebenarnya satu kelas yang sama dan akhirnya
mereka pun duduk bersama. Danil bertanya kepada Adam “Dam lo nanti mau ikut
ekskul apa?”Adam menjawab “Kalo gw maunya Sastra pengen kayak ayah gw waktu SMP,
tapi ngga ada temen, lo mau kan Nil temenin gw ekskul Sastra sekalian nyari
pengalaman pleasee !” dengan muka
sinisnya Danil “Dihh apaaan? Sastra? Ga terkenal banget mending lo ikut ekskul
basket aja bareng gw, disana pasti banyak orang yang populer dan cewek cantik
seru deh nanti bisa diisengin” “Hmm, oke deh” Adam dengan pasrahnya.
Keesokan harinya pada
waktu istirahat Danil melihat seorang wanita sendirian membawa mukena(pakaian
untuk salat wanita) yang menuju ke Masjid untuk salat, terlintas oleh hati
Danil “padahal dia kan perempuan tapi rajin banget untuk salatnya, salat sunah
pula” Danil pun sedikit tergerak untuk lebih rajin beribadah karena di dalam
lubuk hati nya yang paling dalam ia ingin sekali mendoakan kedua orangtuanya
masuk surga bersamanya kelak. Seiring berjalannya hari Danil selalu melihat
aktivitas si wanita tersebut di sekolah, ia penasaran betapa sholehahnya wanita tersebut
dan pada akhirnya ada sedikit rasa yang belum pernah Danil rasakan.
Ketika
di dalam kelas yang ramai“Nil nanti kan kita disuruh untuk membuat kelompok mata
pelajaran IPA, kira-kira siapa aja ya?” “Ngga tau nih Dam, ga penting juga
kayaknya” Adam kebingungan bahwa guru IPA mereka menyuruh membuat kelompok
untuk tugas, tapi tiba-tiba mereka berdua ditawari oleh kelompok perempuan yang
dimana kelompok itu ada wanita yang Danil suka, betapa senang dan pipi merah
jambunya si Danil menjawab “iya”.
Seminggu
kemudian kelompok Danil dan Adam disuruh untuk mengamati tanaman yang ada di halaman
sekolah, Danil pun berlagak bego untuk berkenalan lebih kepada wanita tersebut
dengan wajah yang pucat dan pemalunya, Danil takut kalau wanita tersebut cuek
dan judes, setelah memberanikan dirinya ia pun berkenalan dengan wanita
tersebut “Nama kamu Amalia ya? Kamu jago matematika itu kan yang dapet nilai
100 pas UH 1? ” berdiri di samping Amalia sambil menatap tanaman “ Iya, hehe
itukan karena aku belajar kamu juga bisa kok, tanpa belajar juga bisa asal tau
kunci jawaban dari gurunya hehe” sambil melihat ke arah Danil “Yee bisa aje” dengan
tersenyum “Kamu yang pertama masuk
Sekolah telat kan? Jangan diulangin lagi yaa!” mereka berdua pun saling tertawa dan
mengerjakan tugas yang disuruh, ternyata apa yang Danil pikirkan tidak
sebenarnya ia rasakan.
Hari
demi hari bulan demi bulan mulai berlalu, Danil pun mulai merasakan adanya cinta.
Saat bersama terasa sesak, detakan jantung yang tidak bisa dusta, mata yang
coklat mulai pancarkan sinarnya, ada hasrat yang terlara.“ Tuhan tolong
jelaskan perasaan ini, batinku tersiksa mengapa tidak bisa menyatakan perasaan
ini ke dia?” Danil dalam doanya.
Disuatu
hari Danil melihat Amalia di kantin dengan seorang pria adanya canda dan tawa
terlintas kemesraan disana, Danil pun merasa iri, menyesal, dan merasa bahwa
pria tersebut lebih pantas mendapatkan Amalia. Danil pun lekas ke kelas dan
merenung bahwa dia tidak bisa melihat mereka berdua, ketika Danil merenung ia
mendengar dari teman-teman nya bahwa Amalia dan pria itu sudah terikat cinta.
Sakit
tidak berdarah, itulah apa yang Danil rasakan saat ini. Hari yang temaram
terasa diremukkan hati ini seketika ia tidak mau lagi bersekolah, terbenak oleh
Danil ingin meninggalkan hidup ini. Selekas pulang sekolah ia terasa lesu, murung, tidak ada satu pun teman di sisinya,
dan selalu mendengar musik agar hatinya terhibur hal tersebut membuat dirinya
tidak tau lagi apa yang harus dia lakukan.
Bulan
yang bersinar tepatnya bumi mau berevolusi, Danil dan teman tetangganya yang
laki-laki membuat pesta di rumah teman masa kecilnya yaitu Ray. Beberapa jam
kemudian sebelum waktu itu tiba mereka semua ada yang bermain judi dan ada yang
menonton TV saja sambil makan-makan, Danil hanya duduk melamun saja. Momen
tersebut tinggal beberapa detik lagi, kami semua menunggunya sambil berhitung
mundur “3,2,1 selamat tahun baru !!” Danil dan teman-temannya langsung
mengucapkan selamat.
Waktu
sudah larut malam teman-teman mulai beranjak pulang, orang tua Ray pun baru
pulang pada malam itu. Danil mendengar Ray mengucapkan selamat sekaligus
meminta maaf pada tahun lalu kepada orangtuanya dan orangtuanya berdoa agar Ray
menjadi anak yang baik dan membahagiakan orang tua, terlintas di pikiran Danil
“ halahh nanti dia juga berbuat hal yang membuat orang tuanya menangis lagi”,
Danil ingin sekali membahagiakan orang tuanya. Danil berpikir apa yang bisa
membahagiakan orang tuanya, tiba-tiba Danil teringat salat iya salat 5 waktu di Masjid, Danil
ingin sekali kedua orang tuanya masuk surga bersamanya dengan salat dan berdoa
kepada tuhannya. Setibanya di rumah waktu menunjukkan pukul 03.00 pagi, Danil
berniat untuk salat subuh di Masjid sampai-sampai dia mandi untuk menyegarkan
badannya, karena terasa kaku dan mengantuk Danil pun berniat tidur sebentar
untuk memulihkan tenaganya, tapi ternyata Danil kebablasan waktu menunjukkan
pukul 08.00 pagi. Danil merasa menyesal karena tidak salat subuh tetapi dia
akan konsisten dengan niatnya ini.
Bulan
demi bulan Danil hanya termenung dan gundah gulana, begitu susah nya Danil move on dari perasaan ini. Waktu begitu
cepat Danil pun naik ke kelas 8 dengan kesakitan batin ini, Danil tau dia tidak
boleh seperti ini terus-menerus dan pada akhirnya dia mulai mendengarkan ceramah
Islam yang membuat dirinya tenang dan mulai menjauh dengan perasaan yang dia
rasakan.
Danil
berpisah dengan teman sebangkunya karena kelas 8 mulai ada pemindahan secara
acak di setiap kelas. Danil pun ramah dengan teman-teman barunya di kelas 8,
malah makin lama makin semangat iya dalam mempelajari agama dan merasakan
kedamaian hati seluas samudera, hari ke hari mulai hilang perasaan sakit hati
ini. Sampai pada akhirnya Danil belajar dengan rajin untuk menggapai peringkat
1 di kelasnya.
Alhasil
pada pembagian rapor semester 1 dan 2 Danil mendapat peringkat 4 dan 1. Begitu
bangga nya Danil bisa menyenyumi kedua orangtuanya, Danil terus berdoa dan salat
di Masjid tepat waktu, dia konsisten ingin lebih baik dari sebelumnya. Sewaktu
pada akhirnya dia naik ke kelas 9 dengan penuh semangat dan gembira.
Danil
duduk bersebelahan dengan teman barunya yaitu Hugo, tidak disangka Hugo
merupakan peringkat 1 seangkatan dan Danil yang ke-2. Danil merasa Hugo adalah teman terbaik yang ia temui, Danil
selalu tertarik dengan apa yang diceritakan Hugo tentang kehidupannya, mereka
berdua saling bertukar cerita. Pada saat mereka sibuk cerita ada seorang
perempuan yang datang menghampiri tempat duduk Danil dan Hugo sambil menyapa
Hugo “Hai Hugoo!”sambil melambai tangan, ternyata perempuan itu adalah teman
Hugo waktu kelas 8 yaitu Angel sekarang sekelas lagi dengan Hugo, seketika itu
Danil seperti iman nya tergoyahkan dengan kecantikan Angel.
Pada
waktu pulang sekolah tepatnya di koridor sekolah Danil langsung bilang kepada
Hugo, Danil “Go itu temen lu? Yang dateng terus nyapa lu?”Hugo “Iya, emang
kenapa? lu suka yaaa!?” sambil tersenyum dan menggangu Hugo “Ahh ngga nanya
doang ” tersipu malu. Setelah mereka berbincang Danil merasa asmara-asmara
cintanya mulai bergejolak kembali, tetapi Danil tahu Angel bukanlah perempuan
yang dia inginkan walaupun cantik namun kewajiban terhadap agama Islam ia
kurang, rambutnya yang terurai membuat Danil mulai meredup kembali dalam
cintanya.
Mentari
mulai nampakkan cahayanya Danil pun berangkat ke sekolah, sesampainya di kelas
ia melihat Angel dan teman perempuannya berada di tempat duduk Hugo yang sedang mempelajari Matematika. Danil
langsung menaruh tasnya di bangku dan ikut dalam pembicaraan mereka, disitu
mereka kebingungan dalam mempelajarinya namun Danil mengetahui dan mengajarkan
teman-temannya itu. Danil sedikit teringat dengan Amalia yang pintar sekali
dengan pelajaran ini.
Waktu
bel istirahat Danil pun ke kantin, dan memikirkan perempuan yang ada di sebelah
Angel pada pagi tadi “siapa yaa yang ada di sebelah Angel itu?”. Tiba-tiba Danil
melihat perempuan tersebut melintas di depan Danil dan menyapanya dengan
senyuman hangat, dengan senyuman lesung pipitnya yang manis tersebut Danil
semakin penasaran dengan wanita itu.
Hari
demi hari Danil baru tersadar perempuan tersebut selalu salat 5 waktu dan sunahnya
juga ia kerjakan, pada akhirnya Danil bertanya dengan Angel siapa perempuan
tersebut.
Danil
dengan canggungnya“Ngel yang duduk di sebelah lo itu siapa?” Angel “Ohh dia itu
temen gw waktu masih kecil namanya Rahma, jangan harap dehh lo sama dia soalnya
dia udah di incer sama seseorang” sambil meyakinkan Danil.
Waktu
demi waktu Danil selalu menggalau, hingga ada satu kejadian yang membuat Danil
tidak bisa ia lupakan pada saat pulang sekolah, Danil melihat Rahma sedang
ingin pulang ke rumah yang kebetulan searah dengan Danil tiba-tiba ada 3 orang
siswa sekolah lain yang menggangu Rahma, Danil sontak menghampiri Rahma yang
sedang di ganggu, pada saat Danil datang ia langsung melindungi Rahma di balik
badannya, 3 siswa itu berkata”Woy emang lo siapanya dia? Sok-sok ngelindungin
mau ribut kita?”Rahma “Udah Nil kita pergi aja, jangan di ladenin” Danil dengan
kaki yang bergetar hebat “Gua pacarnya dia, kenapa lo ayo sini !!! (sambil
membuka baju sekolah)” terlihat tubuh Danil memakai kaos putih yang kekar dan
tidak sia-sia ia ikut ekskul basket, melihat keadaan itu 3 siswa langsung mundur
pelan-pelan dan lari. Rahma pun berterimakasih serta kaget ketika Danil bilang
seperti itu dan Danil menghantarkan pulang Rahma. Sejak kejadian itu Danil
menaruh hati kepada Rahma.
Libur
semester telah tiba, Angel berencana akan mengajak Hugo, Rahma, dan Danil untuk
pergi ke mal menghabiskan waktu luang, mereka akan pergi ke mal yang sudah di
sepakati. Setibanya di mal mereka tidak langsung main tetapi pergi ke restoran
dulu untuk makan, ketika di restoran Danil kaget karena tidak ada sendok
ataupun garpu yang ada hanyalah sumpit besi, disitu Danil kesusahan untuk makan
tapi tetap berusaha, ketika Danil sedang berusaha ada sumpit yang datang ke
bibir Danil yang dimana sumpit itu berasal dari tangan Angel “nihh!” Danil
sambil berusaha makan “gw bisa kok pakai sumpit” Angel “cepett pegel nihh!!”
sontak Danil langsung memakannya, suasana disana langsung terasa canggung Hugo
dan Rahma hanya tersenyum.
Libur
semester telah habis dan kembali untuk bersekolah, saat jam pelajaran guru yang
sedang mengajar sedang tidak masuk, waktu itu Angel membuat sebuah permainan
untuk mengisi waktu kosong tersebut yaitu bila kita kalah kita harus jujur
siapa yang kita sukai saat ini, akhirnya 1 kelas ikut untuk meramaikannya dan
tidak disangka yang kalah dalam permainan itu adalah Rahma, Rahma harus jujur dalam
kekalahannya ini dan teman-teman satu kelas meneriaki Ridwan yaitu teman
sekelasnya saat ini, Ridwan memang mulai mendekati Rahma pada saat kelas 8
pantas teman 1 kelas mengait-ngaitkankannya dengan ini. Rahma akhirnya tidak
menjawab atas kekalahannya itu karena malu, Angel “ maaf Ma, gw harus ngemainin
permainan ini (suara hatinya)”.
Pada
saat itu Danil merasa risih Rahma dimakcomblangkan seperti itu, walaupun itu
hanya candaan untuk menghibur. Makin hari makin jadi saja menjodoh-jodohkan
mereka berdua, Danil mulai patah hati dengan ini ditambah lagi Rahma yang
sedikit tertarik dengan Ridwan.
Danil
seperti mengulang patah hatinya waktu itu, makin hari makin lesu saja muka
Danil dan ia tidak tau harus apa ia lakukan. “Woy!! Bengong aja, kenapa sih kok
muka asem banget?” Angel yang mengagetkan Hugo di pelataran kelas “ Itu gw
dicuekin mulu sama Danil, gw bilang kenapa dia malah bilang gapapa mulu” dengan
wajah yang cemberut “Biar gw yang ngomong” sambil berjalan ke bangku Danil.
“
Sini ikut gw! Ngeselin muka lo !” menarik dasi Danil “Ehh dasi gw, mau dibawa
kemana gw?” “ Ke belakang Sekolah, udah ikut aja jangan banyak tanya” dengan wajah
seriusnya. “Liat tuh ada sepasang angsa yang selalu bersama, angsa adalah hewan
yang setia kepada satu pasangannya sampai tua nanti” “Terus?” dengan muka
polosnya “Ihh sok polos banget sih lo, lo sebenarnya suka kan sama Rahma” “Ehh
apaan?” dengan muka yang panik “ Udah deh jangan bohong keliatan dari muka lo,
kalo itu ngebuat lo seneng sana cepet pacarin, gw juga sebagai temen deketnya
ngedukung kok” sambil tersenyum “Kok lo tau sih? sebelumnya makasih Ngel udah
didukung”. Teng.. teng.. teng.. “ Wah udah bel ayo Ngel kita ke kelas” “Lo
duluan aja gw mau disini sebentar sambil ngeliat angsa itu” menahan air mata
keluar “Oke, gw duluan yaa” Ketika Danil balik badan dan pergi Angel mulai
menjatuhkan air matanya.
Bulan
demi bulan berlalu hingga semester 2 mendekati UN, Danil tahu Rahma dan Ridwan
sudah tidak lagi dijodoh-jodohkan. Pada malam hari Danil memberanikan diri
untuk melampiaskan perasaannya kepada Rahma, melalui HP-nya yang jadul dia memulai
obrolan dengan Rahma ”Rahma sebenernye gw suka sama lo dari pas kita ketemu, lo
mau ga jadi pacar gw? Yang tau ini gw sama lo aja” Tangan yang keringat dingin
“lo bercanda ya Nil?” Danil “seriusan” “bohong ah males gw Nil” Danil “serius
gw ngga tipu-tipu” Rahma “gw bingung Nil jawabnya soalnya sebentar lagi kan UN
gw mau fokus belajar dulu” Danil “iya juga si, ya udah deh sehabis UN” detak
jantung yang mulai tenang.
Setelah
selesai UN Danil berharap jawabannya di pending terlebih dahulu karena ia tau
dua minggu lagi mau memasuki bulan Ramadhan, Danil tidak mau berpacaran karena
takut ibadah puasanya terganggu. Hari demi hari dia lalui dengan damai, terlebih
lagi ia baru memasuki SMAN yang Danil inginkan selama ia berdoa kepada
tuhannya.
Selama
di SMA Danil belajar agama Islam bersama gurunya, Danil tahu bahwa pacaran itu
tidak boleh selebih lagi Danil mengetahui dan mempelajari apa isi kandungan
Al-Isra ayat 32 itu. Hati nya gelisah karena berpacaran itu membuat dosa yang
terus mengalir selama pacaran, pada saat itu Danil masuk organisasi Rohis yang
disana banyak teman yang baik, lebih mengerti tentang agama,dan setia kawan.
Danil meninggalkan dunia basket karena ia tahu Danil belum banyak ilmunya
tentang agama.
Hari
demi hari minggu demi minggu jawaban Rahma belum juga terbalas, pada akhirnya
di suatu malam Danil melihat Rahma dan seorang pria sedang berfoto ria dengan
gembira di media sosial, Danil mengeluarkan air mata bahwa dirinya tidak
mengeluh, tersakiti, ataupun galau justru Danil bersyukur sekali kepada Allah SWT. Danil membayangkan bila
mana pria di samping Rahma itu adalah dia berapa banyak dosa yang ia tanggung
kelak, Danil akhirnya mengetahui yang mencintainya dengan tulus adalah Allah
SWT, Dia yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang maha mengetahui isi hati
manusia, dan tidak mau hambanya terjatuh dalam dosa.
Danil
akhirnya mengetahui kelemahan imannya yaitu dikarenakan wanita yang bukan
mahramnnya, pada malam itu juga Danil bersumpah dengan keteguhan hatinya”Demi
Allah yaa Allah saya tidak mau ber pacaran karena saya takut berdosa”, pada
saat itu Danil pun merasakan kelegaan di hatinya. Danil tau ini awal dari
perubahannya untuk menjadi lebih baik bersama teman-teman barunya yang selalu
membantunya untuk istiqomah di jalan yang benar, ia juga tidak lupa dengan
kedua orang tuanya yang ingin sekali memasukinya ke dalam surga bersamanya.
Ray
“Nil udah dua minggu pas MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) nihh cari
pacar kuy, sebelum tugas banyak gw mau genre
SMA nanti romance bukan romusha” membujuk Danil “Ga mau ahh”
dengan wajah yang cuek, “Emang lo mau cewek yang kayak gimana? Muka lo kan
ganteng pasti gampang” “Cantik dan sholehah” dengan tersenyum
“Wahh
banyak tuh diangkatan kita”. “Emangnya ada wanita cantik dan sholehah terus
pacaran?” Ketika itu ada wanita yang menyapa Danil dan menghampirinya “Danill
!!” “Nil gw duluan ya ke kelas hehe” Ray yang tau akan kondisi ini, “Wehh
tunggu” “Lo siapa dah?” dengan wajah yang sinisnya “Ini gw Angel, ternyata kita
satu sekolah lagi hehe” “Oalahh, lo pake kerudung sekarang pantes ga kenal”
“Iyaa, ohh iya gw turut perihatin si..”
Danil
langsung memotong pembicaraan Angel “Udah jangan dibahas, ohh iya gw ngga mau
ngobrol panjang lebar sama lo lagi 12 tahun kedepan, kalo lo bener-bener
berubah dan istiqomah gw akan kerumah lo” Danil yang langsung jalan cepat
kekelasnya “Ehhh, maksudnya apa? Mau ngapainn? Woyy tunggu..”
Danil
tahu bahwa ini langkah awal dari hidupnya yang banyak cobaan, setiap waktu
cobaan yang diterima akan lebih berat dari sebelumnya. Danil berdoa agar tetap
istiqomah untuk di jalan yang benar dan selalu ingin membahagiakan orang tuanya
di dunia maupun di akhirat.
Rumah
The Girls Who Traumatized Me Are Glancing at Me, but I’m Afraid It’s Too Late - prolog (Bahasa Indonesia)
Berakhir sudah | Part 1
Pagi yang cerah, sangat bagus untuk mengawali hari. Langit yang biru, udara yang segar, kiacauan merdu para burung dan aspal jalanan yang masih basah karena hujan semalam sepertinya akan menjadi teman diperjalananku untuk sementara.
Hari ini adalah hari pertama pergi ke sekolah setelah hampir 2 tahun tidak pernah melihat sekolah lagi karena pandemi yang melanda dunia. Rasanya sangat bersemangat bukan? Begitupun denganku, Sudah dari semalam aku menantikan momen ini. Dadaku berdebar kencang membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Dengan perasaan itu aku mengayuh sepedaku menelusuri jalan yang agaknya masih licin karena hujan pada malam hari.
Di tengah perjalanan itu aku berpapasan dengan seorang gadis berambut hitam panjang yang memakai seragam yang sama dengan yang aku kenakan. Wajahnya datar, tetapi jika kau melihatnya lebih lama kau akan tahu kalau dia sedang bersedih, berbeda sekali denganku yang sepertinya semua orang bisa tahu kalau aku sedang senang dengan hanya melihat wajahku sekilas. Menyadari hal itu, aku pun memperlambat ayuhan sepedaku dan mulai bertanya padanya. "Ada apa denganmu?" Ucapku untuk membuka percakapan. Awalnya ia seperti tidak ingin mengobrol denganku, tetapi setelah melihat wajahku dan seragam sekolah kita yang sama, ia mulai membuka suara "tidak apa, aku hanya masih bersedih karena nenekku meninggal kemarin" ungkapnya. "Aku turut berduka" kataku dengan nada pelan ikut bersimpati. Aku masih memperlambat ayuhan sepeda dan bertanya padanya "ingin kutemani sampai sekolah?" "Boleh saja, terimakasih" jawabnya "tidak usah kau pikirkan" kataku dengan tersenyum.
Sejujurnya dia sangat cantik kau tahu? Siapa yang tidak mau berangkat ke sekolah ditemani dengan wanita cantik? Sekolah sudah dekat dia meminta izin padaku untuk pergi duluan. Dia tidak ingin ada rumor aneh tentang aku dan dia, akupun mengiyakan itu dengan perasaan agak berat. "Aku Arfan" Spontan aku berteriak seperti itu padanya sebelum ia berjalan agak jauh dariku "Aku clarissa, salam kenal" jawabnya singkat dengan wajah tersenyum.
.
.
.
.
Aaagh... Hidup begitu tidak adil bukan? Saat yang lain bisa Merasakan berbagai kesenangan, Aku hanya dapat merasakan sedikit dari kesenangan itu. Sungguh, hanya karena kedua orangtuaku lah aku masih bertahan sampai sekarang. Benar - benar nasib diriku, banyak harapan yang harus aku bawa dipunggung ku, semakin hari semakin banyak saja harapan itu. Aku lelah ayah, ibu. Tapi apalah daya, takdir tidak berpihak padaku. Aku hanya bisa menangis meratapi setiap nasib yang kulalui. begitulah kira-kira secercah gambaran bagaimana hidupku selama ini. Dan aku hanya bisa menuangkan ini dalam tulisan.
Kehidupan ku mulai berubah sejak kami bertemu. Aku yang biasanya lebih suka berdiam di rumah sekarang lebih suka keluar rumah dan bersosialisasi dengan orang lain. Sedikit demi sedikit diriku mulai berubah walaupun ada hal yang pasti tidak bisa untuk kau ubah.
.
.
.
.
Sekolah telah usai, waktunya untuk pulang. Ini sudah bulan kedua sejak aku datang ke sekolah, ujian akhir semakin dekat dan aku sangat pusing memikirkan hal itu. Tapi aku sama sekali tidak belajar, aneh bukan? Aku sangat yakin dengan keburuntunganku.
Hari ini aku melihatnya berjalan sendiri saat pulang. Aku dengan semangat segera mendatangi nya. "Hai clar" sapaku, aku memang sudah lumayan akrab dengannya sekarang "arfan, kau belum pulang?" "Baru ingin pulang, aku melihat mu berjalan sendiri jadi aku mau menawari mu pulang bersama. Mau?" Tanyaku "kau tidak keberatan?" "Ya nggak lah, kalau aku keberatan aku tidak akan mengajakmu pulang bersama bukan? Haha" jawabku dengan sedikit tertawa "benar juga haha" dia pun tersenyum dan ikut tertawa kecil, senyumannya sangat mempesona. Aku selalu ingin melihatnya lagi dan lagi.
Di perjalanan tidak banyak yang kami bicarakan. Tapi aku merasa seperti ada benang yang menghubungkan kami, dan benang itu akan semakin dekat bahkan bisa juga semakin jauh seiring waktu berjalan.
